; ; ;

SMA NEGERI 1 DEMAK

Jl. Sultan Fatah No. 85 Demak

Cerdas - Santun - Berprestasi

Hingar Bingar Karnaval Kemerdekaan dan Sisi Lain di Baliknya Bagian II

Jum'at, 28 Agustus 2026 ~ Oleh Baihaqi Aditya ~ Dilihat 4 Kali

Disusun oleh:

Silvia Tri Wahyuni (Jurnalistik Smansade, XII-12)

Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd

 

SmansadeUpdate- Tulus. Kata itu terlantun begitu lembut dari bibir kita, namun ia jatuh ke aspal seperti palu godam yang menghantam gedebog pisang. Keras, basah, dan menyisakan getar yang merambat sampai ke tulang kering. Demak sore itu, kegembiraan tidak datang dengan kemasan plastik. Ia datang dengan keringat yang bercampur debu jalanan, dengan suara serak para ibu-ibu yang teriak menyaksikan rombongan terakhir, dan dengan nyala mata anak-anak yang masih bergelayut di pundak ayah, mata yang berkata: "Ayah, besok kita tonton lagi, ya?" padahal mereka tahu, karnaval hanya setahun sekali, dan setahun adalah masa yang terlalu panjang untuk menanti keajaiban.

Bukan sekadar pawai tahunan yang usai digelar lalu dilupakan. Di balik gemerlap kostum dan derap langkah, ada denyut yang lebih dalam—sebuah gerakan yang mengakar dari kesadaran bahwa kemerdekaan tidak cukup dirayakan dengan terompet dan confetti. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak, misalnya, tampil beda dengan mengusung tema "Ekoteologi: Merawat Bumi, Amanah Ilahi". Mereka membagikan ratusan bibit pohon kepada warga yang antusias menyaksikan jalannya karnaval. Seorang warga bernama Risma mengaku gembira mendapatkan bibit tersebut, menilai langkah ini menginspirasi bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana, menanam pohon demi masa depan anak cucu. Kepala Kantor Kemenag Demak, Dr. H. Abdur Rouf, menegaskan bahwa ekoteologi mengajarkan hubungan manusia dengan alam sebagai amanah Ilahi yang wajib dirawat. "Ketika kita menanam satu pohon, sesungguhnya kita sedang menanam harapan untuk kehidupan," ujarnya.

Lalu, bicara tentang ketertiban, Pemerintah Kabupaten Demak telah mengeluarkan larangan tegas penggunaan sound horeg dalam karnaval ini. Sekretaris Daerah Akhmad Sugiharto dengan lantang menegaskan: "Kalau datang menggunakan sound horeg, kami minta untuk pulang dan tidak mengikuti karnaval". Larangan ini bukan sekadar aturan birokratis, melainkan sebuah pernyataan sikap: bahwa kemerdekaan dirayakan bukan dengan kebisingan yang memekakkan telinga, melainkan dengan harmoni yang menyentuh jiwa. Bahwa merdeka adalah ketika kita bisa mendengar suara tetangga, bukan hanya teriakan diri sendiri. Anak-anak hingga orang tua berdiri menyaksikan satu per satu kontinen melintas. Kehadiran berbagai kelompok seni, pelajar, komunitas, dan unsur pemerintahan membuat karnaval sekaligus menjadi etalase keberagaman budaya, juga potensi lokal Demak.

Di tengah semua itu, Bupati dr. Hj. Eisti'anah, S.E. bukan hanya duduk manis di panggung kehormatan. Ia turun, menyapa, dan mengingatkan bahwa kemeriahan ini bukanlah tujuan, melainkan sarana. Ia mengajak warga untuk tidak melupakan saudara-saudara di sejumlah daerah yang sedang menghadapi bencana. "Mari kita jadikan momentum ini sebagai ajang silaturahmi sekaligus sarana hiburan bagi masyarakat. Di tengah kemeriahan ini, mari kita tetap mendoakan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah," ujarnya. Dan satu pesan yang paling menggigit: "Jangan sampai kemeriahan karnaval berhenti ketika acara selesai saja. Semangat kemerdekaan harus terus hidup dalam kehidupan sehari-hari". Ia juga mengingatkan agar warga membawa pulang sampah dari bungkus makanan dan minuman yang mereka konsumsi,sebuah pengingat kecil namun monumental, bahwa mencintai negeri dimulai dari hal sekecil tidak membuang sampah sembarangan.

Kontras Dibalik Hingar Bingar Karnaval

Ketika panitia karnaval mulai menggulung umbul-umbul dan petugas kebersihan menyapu confetti yang berserakan, justru di situlah detik paling sakral terjadi. Bukan saat panggung megah, bukan saat marching band menggema, tapi saat sunyi itu mulai merangsek. Sebab di dalam sunyi, kita baru bisa mendengar sesuatu yang lebih keras dari drumband: suara kaki-kaki yang melangkah pulang dengan langkah berat namun hati yang mendidih. Mereka membawa pulang bukan sekadar bingkisan kecil dari panitia, melainkan sebongkah rasa yang bernama kita. Ya, kita, kata pendek yang selama bertahun-tahun kita kira remeh, tapi di sore itu, di Jalan Kyai Singkil yang mulai sepi, kata itu membentang sepanjang sejarah Kadipaten. Ada yang menunduk, ada yang mengusap pipi, ada yang memandang langit seolah mencari alasan untuk tidak menangis.

Di situlah, kawan, jiwa itu mulai bermain. Jiwa tidak pernah tinggal di panggung yang gemerlap. Jiwa selalu bersembunyi di sela-sela yang pecah, di antara suara azan yang saling sahut, di antara asap pembakaran sampah yang mengepul dari belakang rumah warga. Jiwa karnaval Demak hari itu bukanlah kostum-kostum indah yang dipamerkan. Jiwa adalah ketika seorang bocah cilik kehilangan sepatunya di tengah kerumunan, lalu puluhan tangan asing serentak membantunya mencari, tanpa saling bertanya nama. Jiwa adalah ketika seorang penjual es campur kehabisan es batu, lalu ibu-ibu PKK di sebelahnya rela memberikan seluruh es batu dari termos mereka, hanya agar dagangannya tetap laris. Itulah kemerdekaan yang bernyawa—bukan yang diukir di monumen, tapi yang dibasahi oleh keringat dan air mata yang tumpah ruah di antara sesama. Maka ijinkan aku berkata kasar, wahai pembaca yang budiman: kemerdekaan yang hanya dirayakan setahun sekali dengan pawai dan konfeti adalah kemerdekaan yang mandul, kemandulan yang kita pupuk sendiri dengan rasa malas dan lupa. Aduh, betapa manis apiknya kita berbusana adat, namun betapa getirnya kita saat harus berbagi rezeki.

Betapa epiknya kita menyanyikan Indonesia Raya dengan dada menggebu, namun betapa piciknya kita saat saling sikut hanya untuk berebut tumpukan nasi kotak. Di sinilah letak cermin yang paling jujur, kawan. Karnaval ini, dengan segala megahnya, adalah sebuah pertanyaan yang menganga lebar: "Seberapa besar kau benar-benar mencintai negeri ini, di luar panggung dan lampu sorot?"

Jawabannya menghunjam keras. Karena ternyata, di hari yang sama, di sudut lain Demak yang tak terjangkau kamera, ada bocah yatim yang menangis karena tidak punya baju baru untuk ikut karnaval. Dan di saat yang sama pula, ada sekelompok pemuda yang rela menjual jam tangannya hanya untuk membeli cat merah putih guna menghiasi kampungnya yang kumuh. Di situlah, antara tangis dan tawa, antara kepemilikan dan pengorbanan, terukirlah denyut sejati. Karnaval Demak adalah rahim besar yang melahirkan kontras; di satu sisi ia menggelegar, di sisi lain ia mengerang.

Dan engkau, aku, kita semua, adalah bagian dari rahim itu, baik sebagai kepala yang mahkota maupun sebagai jari kaki yang berdebu. Lalu, saat rembulan naik menggantikan mentari yang letih, saat lampu-lampu jalan mulai berkerlip seperti kunang-kunang yang lelah, akhirnya panggung benar-benar kosong. Hanya tersisa sebatang bambu runcing yang tertancap di tanah, bekas tiang bendera darurat milik SMA N 1 Demak. Angin malam mengibaskan ujungnya, dan di ujung bambu itu, tertinggal sehelai benang merah yang nyaris putus. Namun benang merah itu biarlah ia menjadi simbol seakan berkata: "Aku tidak pernah benar-benar putus selama ada yang mau menjahitku dengan jarum niat yang kuat."

Gong gamelan yang bertalu lembut, melainkan gong yang dipalu dengan tangan kering dan tulang menonjol, menghasilkan bunyi yang menusuk indra. Nyess, seperti duri bandeng yang tersangkut di kerongkongan saat kita makan dengan lahap, sakit, tapi justru membuat kita sadar bahwa kita sedang menikmati sesuatu yang berharga. Nyess, seperti cipratan minyak panas saat kita menggoreng pecel, menyengat, tapi itulah tanda bahwa makanan sedang masak sempurna. Dan nyess, seperti rasa malu yang tiba-tiba menyergap ketika kita sadar bahwa kita lebih sering berbangga dengan lagu daerah daripada benar-benar belajar bahasa ibu kita.

Goong! Itulah bunyi yang menggema di telinga setiap warga yang melintasi Tugu Belimbing malam itu. Bunyi yang memecah lamunan, menggerus kemalasan, dan menampar pipi kita dengan pertanyaan terakhir: "Setelah panggung rubuh, apakah kasihmu pada negeri masih setebal kain kafan atau hanya setipis kelopak bunga yang lalu dibuang angin?" Jawabannya, wahai Demak, wahai Indonesiaku, adalah kita harus menjadi tukang kayu yang tak kenal lelah, memperbaiki sendiri pagar-pagar rumah bangsa yang mulai rapuh dimakan rayap. Tidak dengan palu dan paku, melainkan dengan laku, dengan kerja, dengan cinta yang tidak pernah bosan membasuh luka, dan dengan menanam pohon, sebagaimana Kemenag Demak mengajarkan, sebagai harapan untuk kehidupan yang akan datang.

Ujung jalan yang sudah sepi itu, bayang-bayang para pahlawan yang gugur, dari era Sultan Trenggono sampai ke para kusir perang gerilya, terlihat tersenyum. Senyum mereka samar, seperti cahaya lilin di atas altar, namun kehangatannya membakar kulit kita. Mereka tidak menuntut kita berkabung selamanya, mereka hanya berbisik: "Hayuk, bocah-bocah Demak, larikno atimu sak kuat-kuate. Masa depan iki nggo kowe, lan kowe kudu mbangun nganggo tangan dhewe. “Ayo, anak-anak Demak, larikan hatimu sekencang-kencangnya. Masa depan ini untuk kalian, dan kalian harus membangun dengan tangan sendiri.”

Maka pulanglah warga Demak malam itu dengan hati yang bukan lagi sekadar gembira, melainkan hangus. Hangus oleh api yang bernama kesadaran. Karena kemerdekaan, jika kau tanya jiwaku, adalah sebuah luka bakar yang tak pernah benar-benar sembuh, ia selalu melepuh, selalu mengelupas, dan selalu mengingatkan bahwa kita harus tetap berjalan meski telapak kaki kita melepuh. Karnaval ini hanyalah permulaan. Esok, kita kembali ke sawah, ke pasar, ke meja sekolah, ke ruang sidang. Dan di sanalah karnaval sesungguhnya terjadi: ketika kita memilih untuk jujur, untuk adil, untuk tidak mencuri hak sesama, untuk menyapa tetangga tanpa pamrih, dan untuk merawat bumi sebagai amanah Ilahi, sebagaimana pesan yang bergema di sepanjang rute karnaval hari itu. Dirgahayu Indonesiaku yang ke-81, dari Demak yang panas ini, dari hatinya Violin Fatma Putri yang menulis dengan tangan gemetar, dan dari jiwamu yang kubakar dengan kata-kata. Semoga gong di lidahmu itu tidak hanya menusuk hari ini, melainkan bergema sampai kapan kau lupa jalan pulang. Karena di situlah, di antara lupa dan ingat, kita akan terus merayakan, bukan dengan terompet dan pita, melainkan dengan air mata yang berani dan tawa yang jujur. Gong! Itu dia. Rasakan. Nyesek? Bagus. Karena itulah tanda bahwa kau masih hidup dan negeri ini masih menantimu. (STW/BA).

Sekolah Karnaval Kemerdekaan

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT