; ; ;

SMA NEGERI 1 DEMAK

Jl. Sultan Fatah No. 85 Demak

Cerdas - Santun - Berprestasi

Hangatnya Kebersamaan Menjelang Bulan Penuh Berkah melalui Kultur Megengan di Kota Wali

Kamis, 19 Pebruari 2026 ~ Oleh Baihaqi Aditya ~ Dilihat 7 Kali

Oleh: 1. Lina Nisaur Rohmah (Jurnalistik Smansade, X-2)

         2. Rahmawati (Jurnalistik Smansade, X-12)

Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd

SmansadeUpdate — Menjelang datangnya Ramadhan, masyarakat Demak memiliki tradisi yang dilakukan secara turun temurun dan yang biasanya dikenal dengan istilah Megengan. Tradisi ini dilakukan pada bulan Sya’ban sebagai perayaan menjelang ramadan. Suasana megengan di Demak terasa berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa. Masyarakat berbondong bondong untuk menghadiri acara perayaan Megengan yang di gelar meriah di pusat kota (alun-alun maksudnya). Perayaan ini telah menjadi bagian penting dalam kebudayaan di Demak sebagai bentuk rasa  syukur kepada Tuhan yang Maha Esa sekaligus menyambut kedatangan bulan ramadan.

Perayaan Megengan di Demak biasanya dipusatkan di sekitar alun-alun Demak dan sekitar area  Masjid Agung Demak. Sejak pagi hingga sore suasana sudah terasa hangat dan ramai. Jalanan terasa padat dan penuh. Lampu-lampu hias yang terpasang menambahkan kesan meriah. Pada zaman ini, Salah satu daya tarik pada tradisi megengan adalah pertunjukan seni barongan. Kesenian yang ditampilkan dengan suara iringan musik yang dinamis dan gerakan yang energik. Para pemain yang menggunakan kostum yang berbentuk kepala singa dan rambut yang tebal sehingga menarik perhatian para penonton. Pertunjukan ini menjadi hiburan yang dinantikan sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya yang harus tetap dilestarikan.

Keramaian megengan juga terlihat dari antusiasme masyarakat yang datang tidak hanya dari pusat kota tetapi juga dari berbagai desa yang ada di demak. Banyak warga yang sengaja datang dengan pakaian rapi bersama dengan keluarga ada pula yang datang dengan orang spesial nya untuk menghadiri perayaan Megengan. Anak anak tampak gembira menyaksikan pertunjukkan dan bermain di sekitar alun alun, sementara para remaja sibuk dengan mengabdikan momen dengan foto bersama teman teman mereka. Antusias yang luar biasa ini terlihat mewarnai momen yang hanya terjadi setahun sekali ini.

Selain pertunjukan seni barongan, megengan juga dimeriahkan oleh berbagai lapak kuliner (food cart) yang berjejer rapi di sepanjang sekitar lokasi acara. Pedagang kaki lima tidak hanya berjualan makanan dan minuman saja, tetapi juga menawarkan berbagai aksesoris dan mainan anak. Adanya unsur-unsur tersebut menambah semarak suasana dan menjadi bagian yang sangat khas dari tradisi megengan. Aroma makanan yang khas dan keramaian pengunjung menciptakan pengalaman yang berkesan bagi masyarakat yang hadir.

Doa bersama juga dipanjatkan oleh masyarakat di sekitar tempat ibadah terdekat. Menandakan bahwa harapan mereka masih ada dan nyata. Harapan agar keberkahan selalu menyertaidan dikuatkan selama menjalankan puasa. Ada juga tradisi membagikan kue apem kepada tetangga atau kerabat terdekat. Hal ini diyakini karena dengan membagikan kue apem sebagai simbol saling memaafkan sebelum Ramadhan tiba.

Megengan tidak hanya tentang keramaian semata. Di balik itu semua, tersembunyi yang tak nampak wujudnya namun terasa maknanya. Filosofi yang mengajarkan kita untuk mengelola dengan baik hawa nafsu di setiap telapak ketika melangkah. Melalui tradisi ini, kita diingatkan bahwa bulan yang penuh keberkahan telah menanti di depan mata. Bukan cuma menjadi omongan belaka, tetapi Ramadan menjadi ajang perlombaan untuk berbuat kebaikan.

Kehangatan Megengan juga terasa dari sikap saling menghargai masyarakat. Tidak ada perbedaan status sosial yang menyelinap ketika berkumpul di alun-alun atau serambi Masjid Agung Demak. Semua larut dalam euforia yang sama, duduk berdampingan, menikmati pertunjukan, mencicipi kuliner yang disediakan, dan memanjatkan harapan. Kebersamaan inilah yang memang menjadi intinya.

Selain itu, Megengan juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengenalkan budaya dan nilai-nilai agama kepada generasi muda. Anak-anak maupun remaja yang datang tidak hanya menikmati keramaian, tetapi juga belajar tentang arti berbagi, menghormati tradisi, dan pentingnya menjaga silaturahmi. Megengan tetap mampu berdiri kokoh mempertahankan eksistensi nya dengan tuntunan dari generasi muda.

Semoga nilai-nilai kebaikan yang tumbuh dalam tradisi ini terus terjaga dan menjadi tonggak inspirasi bagi generasi selanjutnya. Pada akhirnya yang membuat Megengan berarti bukanlah sekadar keramaiannya, melainkan hangatnya doa dan kebersamaan yang menyelimuti setiap sudut Kota Wali menjelang datangnya bulan penuh berkah. (LNR/R/BA).

Sekolah Budaya Ramadhan

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT