; ; ;
Oleh: Kridho Santoso (Jurnalistik Smansade, XI-11)
Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd
SmansadeUpdate- Bulan Februari, tepatnya tanggal 14. Sebuah tanggal yang sama ketika Santo Valentinus rela mati demi mengesahkan pasangan kekasih. Ia rela melawan sistem yang mengekang tidak adanya pernikahan bagi prajurit Romawi. Valentinus, ia tidak berpolitik layaknya Kaisar Kladius II— Ia berpikir layaknya manusia dan memperjuangkan kasih sayang dengan segala yang ia bisa hingga nyawa menjadi taruhannya. Bukti ketangguhan kasih sayang menjadi peraga ngeri bagi sistem. Kasih sayang tidak memiliki bilah, tidak memiliki ujung yang tajam, dan tidak pula memiliki sisi tumpul yang menghancurkan. Namun kekuatannya setara dengan pasukan berkuda para ksatria yang ancamannya dapat menghancurkan suatu negara. Itulah cerita yang aku gumamkan di depan majalah dinding sekolah.
Majalah dinding penuh hiasan berwarna serba pink dan simbol-simbol cinta, buket bunga, dan cokelat. Sudut-sudut majalah dinding warnanya selalu sama. Terkesan homogen, tak heran ini adalah hari Valentine. Ungkapan kasih sayang ditulis di kertas tempel berwarna merah muda, sebagian besar ditunjukkan untuk orang terkasih. Harapan tentang cinta pada umumnya remaja. Sebagian lainnya berpikir untuk menjadikannya potensi ladang cuan. Tentu hari seperti ini, bagi sebagian kalangan yang berorientasi pada keuntungan dapat dimanfaatkan untuk mengais rezeki dengan menjual buket bunga, jasa surat cinta, dan tentunya….cokelat.
Aku diam sejenak, berpikir untuk membeli coklat dari promosi OSIS. Jika berharap coklat yang kubeli itu untuk orang lain maka nilaimu untuk berharap adalah nol. Tentu aku akan memakannya sendiri. Salah satu guruku bilang tidak boleh merayakan hari Valentine, sama halnya dengan keluargaku dan aku bertanya dalam hati, “mengapa tidak?”. Padahal, inti ajaran agama juga menempatkan cinta sebagai nilai luhur: kasih sayang pada sesama, keluarga, dan kemanusiaan..
Memalingkan pikirku terhadap makna, sekarang timbul masalah. Apakah aku harus membeli cokelat yang mengharuskanku mengeluarkan uang lebih? Tentu, harganya lebih karena dibungkus kado. Menurutku membelinya di toko lebih murah, lagipula sama saja rasanya.
Saat aku hendak pergi dari hadapan majalah dinding, tiba-tiba rambut panjang itu teruntai olah angin. Harum bunga mawar seakan mekar di hidungku. Ia berhenti di depan majalah dinding. Mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk, seakan-akan sedang berpikir. Tatapannya menancap pada lembaran promosi dari OSIS. Aku berbalik kembali ke arah majalah dinding. Sesekali mataku menyelip untuk melihatnya. Melihatnya mengingatkanku pada gula Jawa—manis. Aku tarik nafasku, memberanikan diri untuk mulai bercakap.
“Wow, kayaknya cokelat ini enak deh,”
Ucapku dengan nada gugup yang berhasil aku redam. Aku kembali menyelipkan pandanganku ke arahnya dan pada saat itu juga pandangan kami saling bertemu. Terburu-buru aku memalingkan mataku menghadap kembali lembaran promosi dari OSIS. Jantungku berdegup kencang layaknya genderang perang! Kali ini aku bagaikan jenderal yang bergidik ngeri dengan lawanku—dia.
“Iyakah?,” Jawabnya sembari mendekatiku dan memiringkan tubuhnya ke arahku untuk melihat lembaran promosi dari OSIS itu.
Ya Tuhan. Berapa banyak lagi detak jantungku akan berdegup. Rasanya sudah ingin lari jantung ini. Ia tepat berada di sebelahku, tidak lebih dari satu senti bahu kami akan bersentuhan dan semerbak sampo dengan aroma mawarnya kian mengembara di hidungku. Membuatku tenggelam pada rasa manis ini.
“Tentu, apalagi sudah dibungkus kado,” ucapku hampir berbisik kepadanya.
Ia kembali mengetuk-ngetuk dagunya. Lalu mengiyakan. Ia berdiri tegap, mengeluarkan telepon genggam dari saku jas almamaternya. Sesaat, aku melihatnya mengetik nomor narahubung yang tercantum di kiri bawah lembaran promosi dari OSIS itu. Ia memesan dua cokelat dan seuntai bunga mawar. Setelah selesai, Ia kembali menaruh telepon genggamnya ke saku.
“Oke, sampai bertemu besok,” Tegasnya, berbalik lalu pergi dari tempat majalah dinding itu.
Sebelum pergi jauh, aku berteriak padanya.
“Namamu?” ujarku.
“Panggil saja, Sarah,” Jawabnya singkat, lalu tersenyum padaku. Setelahnya ia berbalik badan dan pergi.
Aku kembali termenung. Jantungku tidak juga berhenti berdegup.
“Sepertinya, aku akan membeli satu cokelat juga,” gumamku.
Besoknya di dalam kelas, lebih tepatnya di atas mejaku terdapat satu cokelat dan seuntai bunga mawar. Secarik kertas merah muda menempel pada seuntai bunga itu, bertuliskan:
‘Cokelatnya enak, ini satu untukmu, juga dengan bunga mawarnya.’
Aku tersenyum kecil.
“Aku juga punya satu untukmu,” tegasku.
Begitulah saat taman bunga bersemi. Sangat indah, tanpa pengganggu. Namun, saat pengganggu datang dengan pemikiran sempitnya maka taman bunga itu layu.
Kursi kayu yang setiap aku bergerak sedikit membuatnya berdecit. Sabuk kulit itu yang digenggamnya dengan erat. Ia berdiri di hadapanku. Ia menyebutku stupid boy—anak bodoh, seorang kafir yang keluar dari kepercayaan yang ia ikuti. Sepotong cokelat dan mawar itu ada di meja depanku bagaikan barang bukti atas tindak kriminalku.
Sabuk itu dilepaskan dari pinggangnya. Udara di ruangan mendadak terasa sempit. Setiap ayunan tidak hanya menyentuh punggungku, tetapi juga keyakinanku. Kata-katanya lebih perih dari apa pun yang mengenai kulitku. Sepuluh cambukan ia beri. Diri ini hanya bisa terlingkup memeluk lututnya sendiri dan tanpa mengeluarkan suara. Ia terus memakiku, dua puluh cambukan ia beri.
Ia duduk, kelelahan. Sembari berkata:
“Kau, mengakui budaya asing itu?” Tegasnya. Suara serak ucapannya itu bagai gergaji mesin yang ketika aku salah memberi jawaban maka tamatlah riwayatku.
“Anaknya priyayi, bisa-bisanya! Mau ditaruh mana muka Bapakmu ini!” Ia khawatir bukan pada cokelat, bukan juga dengan kelakuan anaknya. Namun, pada jejak yang mungkin ditinggalkannya pada nama keluarga di lingkungan yang konservatif dan mudah menghakimi.
“Aku seorang manusia. Aku ditakdirkan untuk mencintai. Aku diciptakan untuk mencintai. Dan ayah—kenapa engkau malah melakukan hal ini kepadaku! Buta sejarah! Buta iman! Buta kemanusiaan!” teriakku.
Mendengarnya, ia berdiri dan mengayunkan sabuk kulit itu secara membabi buta. Langit menjadi mendung melihatnya. Murka langit menyambarkan petir, mengemukakan guntur yang sama membabi butanya dengan cambukan sabuk kulit itu. Setelah usai, ia kembali terduduk. Melepaskan sabuk kulit itu dari genggamannya. Tanganya lecet. Ia kemudian pergi.
Aku terjatuh dari kursi kayu itu. Aku menoleh ke arah ruang tengah. Bunga mawar itu masih ada di meja. Kelopaknya sedikit terguncang, tapi belum layu. Cokelat itu tetap terbungkus rapi. Tidak ada yang berubah darinya. Hanya caraku yang berubah memandang dunia.
Sejenak, aku teringat pada Santo Valentinus (225-270 M) yang berdiri di hadapan kekuasaan Kaisar Claudius II. Barangkali, ia juga tahu bahwa tubuhnya bisa dihancurkan, tetapi keyakinannya tidak. Ia tidak melawan dengan pedang, tidak pula dengan pasukan. Ia hanya memilih untuk tetap percaya bahwa manusia diciptakan untuk mencintai.
Aku tersenyum tipis. Apabila mencintai adalah kesalahan, maka sejarah terlalu panjang untuk menyebutnya dosa. Jika sepotong cokelat dianggap penyimpangan, maka mungkin yang perlu dipertanyakan bukan rasanya, tetapi ketakutan yang menyelimutinya.
Namun satu hal yang pastia adalah taman itu mungkin diinjak, tetapi benihnya telah jatuh ke tanah. Sekali tertanam, benih selalu menemukan caranya untuk tumbuh (KS/BA).
“For this was on seynt Volantynys day. Whan euery bryd comyth there to chese his make.”
-Geoffrey Chaucer-
Sekolah Opini BudayaCopyright © 2019 - 2026 SMA NEGERI 1 DEMAK All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id