; ; ;
Oleh: (1) Silvia Tri Wahyuni (Jurnalistik Smansade, XI-12)
(2) Kridho Santoso (Jurnalistik Smansade, XI-11)
Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd
SmansadeUpdate-Hujan kian menghunjam bumi, tiada mentari yang berani bersinar untuk menyinari pagi. Jalanan berlubang tergenang bak danau dan jalanan berpadas luruh. Ladang sawah yang dalam bahasa jawa “Ijo royo-royo” kini tak lebih dari pada lautan—tenggelam. Langit yang kian menangis membuat orang terdiam seperti di penangkaran. Tidak ada aktivitas selain mereka yang terpaksa untuk memenuhi perut mereka dan yang berjuang menempuh pendidikan.
Entah sudah berapa banyak wadah yang sudah terpakai untuk menampung air hujan, rumahku tetap tak lepas dari kolam air mata langit. Semalaman aku terjaga agar rumahku tidak tergenang air. Mata ini sudah mau menyerah, tubuh ini sudah lemas dan hujan tidak mau berhenti. Bahkan ayam jago perkasa mengumpat tidak mau berkokok. Ia tahu, langit sedang mengeluarkan seluruh kepedihannya.
Keadaannya bak kapal karam. Hampir semua benda berlayar di rumahku. Kasur, lemari pakaian dan TV tabung yang ketinggalan zaman terbungkus oleh plastik untuk terhindar basah. Jam dinding menunjukkan jam empat dini hari. Aneh, tidak ada suara berkumandang dari musala terdekat. Malahan hanya terdengar satu suara azan yang disamarkan oleh hujan dan itu pun jaraknya jauh dari rumahku.
“Ayo, nak. Salat.”
Suara lembut itu datang dari nenekku. Tubuhnya basah kuyup. Kulit keriputnya menandakan usia senja.
Mendengar perintahnya aku bertanya, pasalnya tidak ada tempat di rumah ini yang kering. Maka tujuannya ada di musala, dan semoga tidak kebanjiran. Tapi siapa yang mau meninggalkan rumah ini. Terlewat dari pandangan kami saja mungkin sudah roboh oleh air rumah ini. Maka kami terus menanti, semoga hujan dapat berhenti sejenak.
Benar saja hujannya berhenti. Aku dan nenek bergegas untuk pergi ke musala. Tak lupa membawa payung motif bunga dan jas hujan yang robek bagian ketiaknya. Musala pertama kami datangi namun air sudah yang pertama, musala kedua dan ketiga sama saja. Di tengah jalan menuju musala ke empat kami bertemu dengan Imam masjid, Mbah Darmono namanya. Ia menyarankan untuk pergi ke masjid yang jaraknya 350 meter dari sini. Rumahnya beliau juga tak bernasib lebih baik dari rumah kami. Akhirnya kani bertiga menuju ke masjid.
Dalam perjalanan ke masjid, banyak sekali hala rintang dari jalan berlubang dan padas licin yang harus dihindari. Bahkan terdapat aspal yang mencuat keluar seperti tabrakan antar lempeng. Perjalanan kami melewati sawah yang sudah menjadi lautan oleh keganasan sang huja. Nenek selalu berdzikir, tasbih kayu itu sudah berputar berulang-ulang. Mbah Darmono di depan kami untuk memandu melewati jalan aspal yang berlubang dan memastikan kami tidak melangkah ke jalan yang salah. Sedangkan aku menggandeng tangan nenek agar tidak terpeleset. Kekhawatiranku melesat ketika mengingat kembali rumahku, bagaimana jika setelah kutinggalkan rumahmu akan rata dengan tanah.
Langkah kecil kami membuahkan hasil. Masjid desa dibangun lebih tinggi untuk mencegah air masuk. Sesampainya di masjid, kami langsung berwudhu. Merapatkan saf dan mbah Darmono sebagai Imamnya. Setelah dua rakaat salat, mbah Darmono meminta pada jemaat untuk merapat dan berdoa bersama-sama agar kesulitan yang mereka alami dapat dimudahkan sebagaimana Allah mencintai hamba-Nya. Kini aku sadar kepergianku dari rumah yang sekaligus membawa kekhawatiran yang beralasan kini terhapus oleh doa yang aku kumandangkan agar diberi keselamatan.
Setelah berdoa mbah Darmono memberikan ceramah:
Pada hari ini, ketika langit memoles dirinya dengan warna lembayung yang paling khusyuk, alam semesta seolah menahan napas. Hari ini bukan sekadar rotasi angka di kalender, melainkan sebuah prasasti cahaya yang dipahat di atas kanvas malam yang paling gulita. Kita kembali memperingati Isra’ Mi’raj, sebuah perjalanan di mana logika manusia ditekuk hingga patah, digantikan oleh sayap-sayap keyakinan yang mampu menembus cakrawala ketujuh. Bayangkan malam itu, seribu empat ratus tahun silam.
Angin Makkah yang biasanya liar mendadak tunduk, menciumi debu-debu di bawah telapak kaki Sang Kekasih. Sang rembulan, yang biasanya bangga dengan cahaya pinjamannya, seketika merasa redup dan malu di hadapan pancaran nur Muhammad SAW. Inilah malam di mana waktu berhenti berdetak, di mana jarak antara Bumi dan Arasy yang sejuta tahun perjalanan diringkas menjadi sekejap mata. Sebuah hiperbola Tuhan yang paling nyata, di mana kekuasaan-Nya meledak, menghancurkan dinding-dinding mustahil yang dibangun oleh akal kerdil manusia.
Perjalanan ini adalah personifikasi rindu yang paling murni. Al-Buraq, makhluk cahaya itu, bukan sekadar tunggangan; ia adalah simbol ketaatan yang melesat secepat kilat, membawa raga suci melintasi galaksi-galaksi yang bersujud dalam diam. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, bumi Palestina hari itu memeluk jejak kaki beliau dengan kehangatan yang tak terlukiskan. Lalu, ke atas, terus ke atas, melewati pintu-pintu langit yang berdzikir tanpa henti, hingga sampai di Sidratul Muntaha, tempat di mana pena takdir tak lagi berani menggoreskan tinta. Di sanalah, di puncak segala puncak, Sang Nabi Agung, Nabi Muhammad SAW. Tidak menemui kekayaan dunia, melainkan menjemput kado terindah bagi kita, Shalat. Shalat adalah tali temali cahaya yang menjuntai dari langit ke bumi. Shalat adalah sebuah repetisi suci, lima kali sehari kita bersujud, lima kali sehari kita merangkak dari lumpur dosa, lima kali sehari kita mengetuk pintu Tuhan.
Repetisi ini bukanlah kebosanan, melainkan irama napas ruhani. Tanpanya, jiwa kita hanyalah selembar daun kering yang dipermainkan badai duniawi. Analogi alam mengajarkan kita melalui peristiwa ini. Lihatlah sebatang pohon. Semakin tinggi ia menjulang ke langit, semakin dalam akarnya harus mencengkeram bumi. Begitulah Isra’ Mi’raj. Beliau naik ke puncak tertinggi semesta bukan untuk meninggalkan bumi, melainkan untuk membawa cahaya yang akan menerangi bumi yang gelap. Kita diingatkan bahwa setinggi apa pun jabatan kita, semegah apa pun istana yang kita bangun, dan sejauh apa pun pengetahuan yang kita genggam, kita hanyalah debu kecil yang bernapas atas izin-Nya.
Pesan moral dari peristiwa ini adalah tentang “melampaui”. Hidup bukan sekadar tentang apa yang bisa disentuh oleh jemari, tapi tentang apa yang bisa dirasakan oleh nurani. Kaidah hidup yang harus kita petik ialah di balik setiap kesedihan yang menghimpit (sebagaimana Rasulullah yang saat itu sedang dalam masa duka atau Amul Huzni), Tuhan selalu menyiapkan tangga cahaya untuk menaikkan derajat kita.
Pada akhirnya, Isra’ Mi’raj adalah pengingat yang tajam: Kita tidak perlu buraq untuk sampai ke langit, kita hanya perlu sajadah. Sebab, saat dahi menyentuh bumi dalam sujud yang paling jujur, di situlah sebenarnya kita sedang berada di puncak Sidratul Muntaha.
Mari kita rayakan hari ini bukan dengan sekadar kata-kata, tapi dengan memperbaiki kualitas “mi’raj” kecil kita setiap hari melalui shalat. Karena sesungguhnya, jarak antara hamba dan Penciptanya hanyalah sejarak antara kening dan tempat sujud. Jangan biarkan hatimu menjadi gurun gersang tanpa tetesan embun sujud, sebab tanpa itu, kau hanyalah jasad yang berjalan menuju liang lahat tanpa pernah benar-benar hidup. (STW/KS/BA).
Sekolah Feature AgamaCopyright © 2019 - 2026 SMA NEGERI 1 DEMAK All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id