; ; ;
Oleh: Jihan Salsabillah (Jurnalistik Smansade, X-7)
Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd
SmansadeUpdate- Lampion-lampion merah bergantung rapi di sepanjang jalan dan teras rumah. Berayun lembut tertiup angin awal tahun. Dentuman musik barongsai menggema, memecah udara sore yang dipenuhi tawa anak-anak dan percakapan hangat keluarga. Aroma kue keranjang yang manis bercampur dengan wangi dupa dari kuil (klenteng) menghadirkan suasana yang akrab sekaligus sakral. Tahun Baru Imlek kembali hadir. Menandai tahun ke-2577 dalam tradisi masyarakat Tionghoa dan keturunannya di berbagai titik dunia, termasuk Indonesia. Momentum ini kembali membawa warna merah yang hangat ke berbagai sudut wilayah.
Imlek bukan sekadar pergantian tahun dalam lunar calender. Imlek merupakan simbol pembaruan, harapan, dan doa untuk kehidupan yang lebih baik. Merah tak hanya sekedar warna, melainkan simbol yang mendominasi hampir setiap sudut tempat diadakannya perayaan: dari lampion yang digantung tinggi, amplop angpao, hingga ornamen pintu seperti mén shén yang diyakini membawa keberuntungan. Warna tersebut melambangkan semangat, kebahagiaan, dan harapan agar tahun yang baru dipenuhi keberkahan dari sang penguasa Semesta.
Biasanya beberapa hari menjelang perayaan, masing-masing anggota keluarga melakukan tradisi bersih-bersih rumah. Aktivitas ini bukan sekadar menjaga kerapian, tetapi menjadi simbol netralisir energi negatif dari tahun sebelumnya. Namun, pada saat hari Imlek tiba, menyapu justru dihindari karena dipercaya dapat “menyapu” rezeki yang baru datang. Tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai simbolis begitu melekat dalam kehidupan masyarakat Tionghoa dan keturunannya dalam tindakan sederhana aktivitas sehari-hari.
Malam tahun baru Imlek adalah momen yang paling dinanti. Anggota keluarga dari berbagai generasi berkumpul, duduk mengelilingi meja makan yang dipenuhi hidangan khas Tionghoa penuh bermakna. Ikan disajikan sebagai lambang kelimpahan rezeki, mie panjang umur menjadi doa diberi kesehatan panjang, sementara nian gao atau kue keranjang melambangkan harapan peningkatan kesejahteraan dari tahun ke tahun. Melalui suasana penuh kebersamaan itu, angpao dibagikan kepada anak-anak dan anggota keluarga yang belum menikah. Lebih dari sekadar amplop merah yang berisi lembaran uang, angpao adalah simbol kasih sayang, doa, dan harapan baik dari generasi berpengalamann kepada generasi tunas muda selanjutnya.
Selain tradisi keluarga, Imlek juga identik dengan sembahyang dan ziarah ke makam leluhur. Keluarga etnis Tionghoa maupun keturunannya yang ada hampir di tiap negara di dunia mengunjungi klenteng (kuil) untuk berdoa, memohon kelancaran dan keselamatan di tahun yang baru. Nilai penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari perayaan ini.
Keturunan Tionghoa di Indonesia memiliki kisah ‘jatuh-bangun’ dalam merayakan Imlek. Awalnya, tradisi Imlek telah hadir sejak masa kedatangan imigran Tionghoa yang berdagang dan menetap di Nusantara pada periode klasik (sekitar 1500 tahun lalu). Melompat ke masa awal kemerdekaan, Imlek juga sempat diakui secara resmi sebagai hari raya masyarakat keturunan etnis Tionghoa. Akan tetapi, roda takdir berputar. Masa pemerintahan Presiden Soeharto segala hal yang menyangkut kebudayaan Tionghoa, termasuk perayaan Imlek, sangat dibatasi di ruang publik. Perayaan hanya diperbolehkan dalam lingkungan keluarga dan tempat tertutup sehingga ekspresi budaya tidak dapat ditampilkan secara bebas.
Perubahan besar terjadi pada era Reformasi. Presiden Abdurrahman Wahid yang lebih familiar dipanggil Gus Dur, mencabut kebijakan pembatasan berbudaya keturunan etnis Tionghoa pada tahun 2000. Keputusan ini menjadi titik balik penting dalam sejarah keberagaman Indonesia karena membuka kembali ruang bagi masyarakat Tionghoa untuk mengekspresikan tradisi dan budayanya secara terbuka. Tidak lama kemudian, pada masa kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak tahun 2003. Sejak saat itu, perayaan Imlek tidak lagi sembunyi-sembunyi. Melainkan hadir terbuka sebagai bagian dari identitas bangsa.
Kini, kemeriahan Imlek dapat dirasakan di berbagai daerah. Contohnya di Kota Solo (Surakarta), perayaan Grebeg Sudiro menjadi contoh akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa melalui kirab meriah serta gunungan kue keranjang. Sementara itu di Kabupaten Kepulauan Meranti, tepatnya di kawasan Selat Panjang, Provinsi Riau digelar tradisi Perang Air yang menghadirkan suasana penuh kegembiraan yang melibatkan keturunan masyarakat Tionghoa. Sementara itu, perayaan Cap Go Meh pada hari ke-15 menjadi penutup rangkaian Imlek yang sarat warna, diiringi pertunjukan barongsai dan sajian kuliner khas.
Menariknya, Imlek di Indonesia kini tidak lagi hanya dirayakan oleh satu komunitas saja. Di kota-kota besar, pertunjukan barongsai biasanya tampil di pusat perbelanjaan, alun-alun kota, halaman kuil yang dibuka untuk umum, dan ruang publik lainnya. Pertunjukan itu disaksikan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Ucapan “Gong Xi Fa Cai” terdengar bersahutan. Diucapkan tidak hanya oleh mereka yang merayakan, tetapi juga oleh sahabat dan tetangga yang berbeda suku maupun keyakinan. Melalui suasana seperti itulah toleransi terasa nyata, bukan sekadar wacana.
Lebih dari sekadar pesta dan simbol keberuntungan, Imlek mencerminkan nilai kebersamaan dan persaudaraan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati leluhur, menjaga keharmonisan keluarga, dan berbagi rezeki kepada sesama. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar kehidupan berbangsa di Indonesia.
Di bawah cahaya lampion yang hangat dan warna merah yang menyala, Perayaan Imlek menyampaikan pesan sederhana namun mendalam bagi masyarakat bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah. Melainkan kesempatan untuk saling memahami. Tradisi yang dahulu sempat dibatasi kini berdiri tegak sebagai simbol harmoni dalam bingkai keberagaman.
Imlek di Indonesia bukan hanya milik satu etnis atau satu komunitas. Ia telah menjadi bagian dari kisah panjang bangsa yang terus belajar merawat toleransi. Dalam setiap dentuman tambur barongsai dan setiap angpao yang berpindah tangan, terselip doa agar Indonesia senantiasa damai, bersatu, dan saling menghargai. Selamat Imlek! Gong Xi Fa Cai!. (JS/BA).
Sekolah Budaya FeatureCopyright © 2019 - 2026 SMA NEGERI 1 DEMAK All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id