; ; ;

SMA NEGERI 1 DEMAK

Jl. Sultan Fatah No. 85 Demak

Cerdas - Santun - Berprestasi

Megahnya Tradisi Iring-iringan Prajurit Patangpuluhan dalam Rangkaian Grebeg Besar Demak

Senin, 01 Juni 2026 ~ Oleh Baihaqi Aditya ~ Dilihat 7 Kali

Oleh: Jihan Salsabillah

Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd

SmansadeUpdate-Pukul 08.24 WIB, hari Rabu 27 mei 2026. Saya bersama beberapa teman sudah tiba di kawasan Kadilangu, Demak. Berdasarkan jadwal yang kami peroleh, iring-iringan Prajurit Patangpuluhan akan dimulai pukul 08.00 WIB. Dengan semangat menggebu, kami berharap dapat menyaksikan rombongan sejak awal perjalanan.

Namun harapan itu tidak langsung terwujud.

Jalan yang kami lalui menuju Kadilangu masih tampak seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda kirab yang akan segera melintas. Warga memang mulai berdatangan, tetapi rombongan yang ditunggu belum juga terlihat.

Menit demi menit berlalu.

Bekal yang saya bawa perlahan habis disantap sambil menunggu. Jajanan yang dibeli di sekitar lokasi pun ikut menjadi korban penantian panjang pagi itu. Di tengah rasa penasaran, salah satu teman tiba-tiba berceletuk, “Ini mah nunggu bupatinya haji dulu.”

Kami langsung tertawa. Meski hanya candaan asal bunyi, kalimat itu cukup menghibur di tengah penantian yang terasa semakin lama.

Sekitar satu jam kemudian, suasana mulai berubah. Sorak warga terdengar dari kejauhan. Orang-orang mulai berdiri dan mengarahkan pandangan ke satu titik yang sama.

Rombongan akhirnya datang.

Di bagian depan tampak salah satu tokoh yang disebut sebagai keturunan Sunan Kalijaga. Di belakangnya, berjalan para pejabat daerah dan tokoh masyarakat yang menjadi bagian dari tradisi tahunan tersebut. Di tengah rombongan, saya dikejutkan oleh kehadiran Mas dan Mbak Duta yang sebelumnya pernah saya temui saat peliputan lain.

Rasa terkejut bercampur bangga muncul begitu saja.

Di sisi kanan dan kiri rombongan, barisan anggota anak Pramuka turut mengawal jalannya kirab. Mereka memegang tongkat panjang yang tersambung membentuk pagar hidup. Barisan itu membentang cukup jauh dan membuat jalannya rombongan tetap tertib di tengah padatnya masyarakat yang ingin menyaksikan dari dekat.

Setelah para tamu kehormatan melintas, suasana semakin semarak. Muncul kelompok-kelompok peserta dengan kostum layaknya prajurit kerajaan. Beberapa membawa tameng dan tombak yang menghadirkan nuansa sejarah yang kuat. Tidak jauh di belakang mereka, sejumlah remaja tampil mengenakan busana para sunan.

Penampilan mereka justru menjadi salah satu bagian yang paling mencuri perhatian. Wajah-wajah muda dengan kostum para tokoh penyebar Islam itu menghadirkan kesan unik sekaligus menggemaskan, membuat banyak penonton tersenyum.

Meski kirab di sepanjang jalan Kadilangu telah selesai melintas, perjalanan rombongan ternyata belum berakhir. Mereka masih melanjutkan prosesi menuju lokasi penjamasan pusaka di kawasan makam Sunan Kalijaga.

Saya dan teman-teman memilih mengambil jalur lain. Kami menyusuri deretan kios-kios yang mengarah ke kompleks makam. Berjalan berdesakan di sela keramaian, sesekali harus “mblasak-mblasak” mencari celah agar tetap bisa bergerak maju.

Di tengah perjalanan itu, kami kembali berpapasan dengan rombongan lain yang juga menjadi bagian dari rangkaian tradisi Grebeg Besar. Berbeda dengan kirab Prajurit Patangpuluhan yang dipenuhi sorak penonton dan suasana meriah, prosesi kali ini terasa jauh lebih sakral.

Lorong pasar yang biasanya dipenuhi aktivitas jual beli mendadak berubah menjadi jalur prosesi budaya. Di sisi kiri dan kanan, kios-kios makanan, mainan, dan buah-buahan berdiri berjejer di bawah cahaya lampu yang terang. Para pedagang dan pengunjung menghentikan aktivitas mereka sejenak untuk menyaksikan rombongan yang melintas.

Dari kejauhan terdengar lantunan sholawat yang menggema memenuhi lorong pasar. Irama tabuhan yang konstan mengiringi langkah para peserta prosesi. Di bagian depan tampak para pembawa panji-panji besar berwarna hitam dengan ornamen keemasan. Salah satu peserta membawa dupa yang mengepulkan asap tipis ke udara. Aroma harum yang khas perlahan menyelimuti sepanjang jalur yang dilalui rombongan.

Di belakang pembawa panji, para pemuda dan pemudi berjalan beriringan mengenakan busana adat yang dipadukan dengan atribut khas paguyuban mereka. Langkah mereka terlihat selaras mengikuti irama tabuhan. Wajah-wajah yang serius dan khidmat menunjukkan bahwa prosesi ini bukan sekadar arak-arakan biasa.

Barisan berikutnya diisi oleh para perempuan berkebaya beludru merah marun yang membawa perlengkapan prosesi di atas nampan berhias. Kehadiran mereka menghadirkan warna tersendiri di tengah dominasi warna hitam dan putih yang mendominasi rombongan. Tidak jauh di belakangnya, anak-anak laki-laki mengenakan pakaian adat Jawa lengkap sambil membawa kotak-kotak putih. Pemandangan itu memberi kesan bahwa tradisi ini terus diwariskan kepada generasi muda.

Semakin ke belakang, rombongan ibu-ibu dan perempuan dewasa berjalan sambil membawa bunga setaman. Harum bunga bercampur dengan aroma dupa yang masih tersisa di udara. Di antara mereka tampak para sesepuh dan tokoh masyarakat yang melangkah tenang dengan pakaian adat Jawa dan samir kuning yang melingkar di leher mereka.

Sesekali tampak taburan beras kuning dilemparkan ke arah kerumunan. Butiran-butiran kecil itu beterbangan mengikuti arah angin sebelum jatuh ke tanah dan mengenai beberapa pengunjung yang berada di sekitar jalur prosesi. Salah satu teman saya bahkan sempat terkena taburan beras kuning tersebut. Kami saling berpandangan sejenak sebelum menahan tawa kecil, meskipun tetap berusaha menjaga sikap di tengah suasana yang khidmat.

Puncak prosesi terlihat ketika rombongan besar berpakaian serba putih mulai melintas. Di tengah-tengah mereka tampak sebuah tandu berwarna hijau yang dipikul bersama-sama di atas bahu. Tandu tersebut diarak dengan penuh kehormatan sambil terus diiringi lantunan selawat yang menggema di sepanjang lorong pasar. Langkah mereka berjalan perlahan namun mantap, seolah membawa amanah yang telah dijaga selama bertahun-tahun.

Rombongan yang melintas tampak sangat panjang. Barisan demi barisan terus berdatangan tanpa putus. Semakin dekat dengan kawasan makam, suasana terasa semakin tenang. Hiruk-pikuk pedagang dan keramaian pengunjung perlahan tergantikan oleh nuansa religius yang begitu kental. Banyak peziarah berdiri di tepi jalur prosesi sambil memperhatikan setiap tahapan yang berlangsung.

Saat itulah saya menyadari bahwa rangkaian Grebeg Besar Demak tidak hanya menghadirkan kemeriahan budaya melalui kirab Prajurit Patangpuluhan, tetapi juga menyimpan nilai spiritual yang kuat. Tradisi yang awalnya terlihat sebagai sebuah perayaan budaya perlahan menunjukkan makna yang lebih dalam, yakni penghormatan terhadap sejarah, leluhur, dan warisan yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Demak selama berabad-abad.

Hari itu, saya datang untuk melihat iring-iringan Prajurit Patangpuluhan. Namun yang saya dapatkan bukan hanya sebuah tontonan budaya. Penantian panjang, tawa bersama teman-teman, keramaian warga, kemegahan kirab, hingga suasana sakral menuju kompleks makam menjadi pengalaman yang membuat tradisi ini terasa lebih dekat dan bermakna. (JS/BA).

Sekolah Budaya Sejarah

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT