; ; ;
Oleh: Kridho Santoso (Jurnalistik Smansade, XI-11)
Silvia Tri Wahyuni (Jurnalistik Smansade, XI-12)
Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd
SmansadeUpdate-Raden Ajeng Kartini atau R.A. Kartini adalah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan. Ia lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, sebagai anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A. Ngasirah. Kartini sempat mengenyam pendidikan di ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun sebelum menjalani masa pingitan sesuai adat saat itu. Ia kemudian menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat dan wafat pada 17 September 1904 di Rembang pada usia 25 tahun. Meskipun hidupnya singkat, pemikiran Kartini tentang pentingnya pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan banyak dituangkan dalam surat-suratnya yang kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, sehingga menjadikannya simbol perjuangan perempuan di Indonesia.
Perjuangan Kartini demi emansipasi perempuan melalui pemikirannya yang maju kerap out of the box arah pemikirannya jika diterjemahkan dengan era sekarang. Dulu, pemikiran ini menjadi hal yang sangat berbahaya bagi pemerintahan Hindia Belanda. Pasalnya dengan pemikirannya yang tajam dan revolusioner khususnya pada masyarakat Jawa yang sangat tradisional bisa menggerakkan aksi massa untuk menuntut keadilan. Apalagi ditambah pada masa itu Hindia Belanda sedang melakukan politik etis yang di mana hal ini dapat menjadi momentum untuk berteriak keadilan. Tentu pemerintah Hindia Belanda tidak ingin dituntut lebih, maka dibungkamlah ibu kita untuk selamanya. Terlepas dari kontroversi mengenai kematian RA Kartini, tentulah perjuangan beliau tidak bisa kita anggap remeh. Anggap saja bagai burung yang hanya hidup di sangkar. Burung itu hanya tau tentang makan, minum, tidur, dan sesekali berkicau. Ia tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah tahu mengenai kebebasan mengepakkan sayapnya, menghirup udara segar, dan hal lain selayaknya burung “normal” pada umumnya. Sekarang ubahlah subjek burung tersebut menjadi perempuan, dan begitulah kurang lebihnya kehidupan perempuan Jawa zaman dulu. Burung yang berada di sangkar pasti ingin merasakan udara segar kebebasan, demikian juga para perempuan Jawa zaman dulu.
Namun mereka dipangkas pilihan untuk merealisasikan angannya dengan kebudayaan kuno turun-temurun. Dengan itu keduanya merasa sudah aman, nyaman, dan berpikir begitulah takdir mereka yang sebenarnya terlepas bahwa yang satu adalah seorang burung yang harusnya mempunyai kebebasan menjelajah dunia dan satunya lagi adalah manusia yang dapat berpikir secara bebas dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Dalam situasi itulah Kartini hadir sebagai cahaya yang membuka perspektif baru, bahwa perempuan juga memiliki hak untuk belajar, berkembang, dan menentukan masa depannya.
Tentulah dengan analogi yang agak rumit yang dibuat ini dapat membuat kalian sedikit kurangnya tahu mengenai jerih payah Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan. Kartini tidak hanya melawan perorangan, ia melawan yang benar-benar budaya yang sudah mengakar dan mengikat sangat kuat yang bahkan memperngaruhi struktur masyarakatan majemuk hingga berabad-abad lamanya.
Kini, sampailah kita pada sebuah ironi yang paling manis sekaligus paling menusuk: bagaimana perjuangan agung itu perlahan berubah menjadi sekadar peringatan berpakaian. Coba tengok. Setiap April menjelang, di sudut-sudut negeri ini, ibu-ibu guru sibuk menjahitkan kebaya untuk murid-muridnya. Para putri kecil berhias sanggul dan kain batik, berbaris rapi di halaman sekolah. Wajah-wajah mungil itu tersenyum manis, pipinya disapuh bedak tipis, dan di tangan mereka kadang terkembang sepucuk surat palsu yang dibacakan dengan suara terbata-bata. Ah, alangkah indahnya. Seperti lukisan kuno yang digantung di dinding istana. Tapi apakah lukisan itu masih bernyawa? Kartini, dulu, adalah seorang putri yang jiwanya meronta di balik tembok kedaton. Setiap malam, ketika kabut Jepara menyelimuti pekarangan, ia menyalakan pelita kecil di meja belajarnya. Di atas kertas bergaris, ia menumpahkan segala rindu pada dunia yang tak boleh ia jamah. Tangannya gemetar menulis: "Aku ingin memajukan perempuan Jawa, membebaskan mereka dari belenggu adat." Kata-katanya bukan sekadar rangkaian aksara. Ia adalah dia sekaligus amarah. Merangsek menjadi satu.
Namun kini, seratus dua puluh tahun lebih setelah ia tiada, semangat itu perlahan luruh menjadi ritual busana. Peringatan Hari Kartini di banyak tempat nyaris tak ubahnya sebuah pentas mode musiman. Para perempuan—dari anak TK hingga pegawai negeri—dikenakan pakaian tradisional, lalu diabadikan dalam ribuan foto. Sore harinya, pakaian itu dilipat rapi, dikembalikan ke lemari, dan lupa. Esoknya, kehidupan kembali berjalan seperti biasa: perempuan masih terbebani urusan dapur, masih diragukan ketika memimpin, masih dianggap berlebihan ketika bersuara keras.
Bukankah ini sebuah tragedi yang diselimuti keindahan? Bahwa kita begitu pandai memuja rupa, tetapi begitu lupa pada makna. Kita mendandani anak-anak kita seperti Kartini cilik, tetapi tak pernah mengajarkan mereka bahwa Kartini yang sesungguhnya adalah pemberontak lembut yang nekat membaca buku-buku terlarang di tengah larutan tradisi. Kita merayakan hari kelahirannya dengan berpakaian adat, tetapi kita tidak pernah bertanya: "Apakah adat yang dulu membelenggunya kini sudah benar-benar mati?"
Oh, sungguh manis-apik kedengarannya: "Memperingati Kartini dengan busana nusantara." Seperti untaian puisi dari mulut para pejabat. Tapi puisi itu tak ubahnya tiram yang di dalamnya tak lagi berisi mutiara. Hanya cangkang. Hanya kulit. Hanya penampilan.
Lihatlah lebih dalam. Di sudut lain negeri ini, masih banyak perempuan yang dipaksa menikah muda oleh adat yang katanya "harus dihormati". Masih banyak yang putus sekolah karena keluarga lebih memilih anak laki-laki. Masih banyak yang takut bermimpi karena sejak kecil didoktrin bahwa langit-langit rumah adalah batas tertinggi jangkauan sayapnya. Di situlah belenggu Kartini zaman dulu masih hidup, meski ia sudah tiada. Bedanya, dulu belenggu itu bernama pingitan. Kini belenggu itu bernama "kebiasaan", "tradisi", atau bahkan "cinta".
Kartini tidak pernah meminta untuk dikenakan kebaya setiap 21 April. Ia meminta agar perempuan boleh belajar membaca. Ia meminta agar perempuan boleh duduk di bangku sekolah yang sama dengan laki-laki. Ia meminta agar hak perempuan untuk menjadi dirinya sendiri bukan bayangan lelaki, bukan perabot rumah tangga diakui oleh semesta. Itu saja. Tapi ternyata, itu adalah permintaan yang terlalu besar, sehingga sampai sekarang pun kita belum benar-benar menuntaskannya. Yang kita tuntaskan malah rancangan busana.
Maka, jika kelak ada yang bertanya, "Bagaimana kita memperingati Kartini?" Jawablah dengan jujur: "Kita berpakaian seperti dirinya, tetapi kita jarang berpikir seperti dirinya." Itulah ironi terbesar dalam sejarah peringatan seorang pahlawan. Bahwa kita lebih sibuk menghias tubuh daripada membebaskan jiwa. Bahwa kita begitu takut pada ketelanjangan makna, sehingga kita menutupinya dengan sehelai kain terindah yang pernah ada.
Namun jangan pula kita terlalu murka. Sebab di tengah hiruk-pikuk peringatan yang dangkal itu, masih ada secercah harapan. Masih ada guru-guru yang, usai foto bersama, membacakan surat-surat Kartini dengan mata berbinar. Masih ada anak-anak yang bertanya, "Bu, mengapa Kartini sedih kalau hanya boleh di rumah?" Dari pertanyaan itu sekecil apa pun api Kartini tetap menyala. Ia tak akan mati hanya karena salah dirayakan. Api kebenaran tak pernah padam, meski orang-orang sibuk meneranginya dengan lilin palsu. Biarlah peringatan berpakaian tetap ada, asal jangan menjadi satu-satunya. Sebab pakaian bisa usang, tetapi gagasan tetap abadi. Dan gagasan Kartini tentang emansipasi bukanlah kain yang dapat dipakai lalu dicuci. Ia adalah tinta yang telah meresap ke dalam daging zaman, dan tak akan luntur meski dibasuh seribu arus sejarah.
Maka, rayakanlah Kartini dengan kebaya jika suka. Tapi jangan lupa: di balik kebaya itu, ada hati yang dulu berani berbisik melawan raja dan kolonial. Bisik itu kini harus menjadi gemuruh di dada kita semua, entah kita laki-laki atau perempuan, entah kita berpakaian adat atau kemeja biasa. Sebab emansipasi sejati tak pernah soal penampilan. Ia soal keberanian. Dan keberanian, sayangnya, tak pernah bisa dijahit. (STW/KS/BA).
Sekolah Budaya PerempuanCopyright © 2019 - 2026 SMA NEGERI 1 DEMAK All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id