; ; ;
Oleh: Silvia Tri Wahyuni (Jurnalistik Smansade, XI-12)
Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd
SmansadeUpdate – Ketika seribu tangan mengulurkan surga di malam demak, dan ketika keikhlasan berpindah lewat bungkus jajanan.
Jika langit malam biasanya turun sebagai selimut gelap, maka di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan, langit seolah memutuskan untuk turun ke bumi dan menjelma menjadi ribuan senyum bocah. Di Kota Wali ini, malam bukan lagi milik sunyi, melainkan milik tawa yang berpindah dari satu genggaman ke genggaman lain. Namanya Weh-Buweh. Sebuah tradisi yang tak lekang digerus zaman, yang membuat jalan-jalan kampung seperti Sampangan, Domenggalan, Krapyak, hingga Mangunjiwan berubah menjadi pasar cinta. Tempat nilai nominal tak lagi punya kuasa, yang ada hanya keikhlasan yang berpindah tangan lewat bungkus jajanan.
Di kota yang konon menjadi saksi berdirinya Kesultanan Demak ini, waktulah yang paling berkuasa. Tak ada yang tahu pasti kapan tradisi ini mulai berakar. Beberapa tokoh masyarakat yang lahir dan besar di Kota Wali hanya bisa mengangkat bahu saat ditanya sejarahnya. Yang mereka yakini, tradisi Weh-Buweh ini mengajarkan anak untuk saling berbagi, saling memberi, dan melatih kejujuran. Sebuah mata rantai kebajikan yang sambung-menyambung tanpa putus, diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.
Membayangkan Demak di malam selikuran, orang bisa membayangkan jalan-jalan kampung yang biasanya sunyi mendadak berdenyut seperti jantung yang baru berlari. Puluhan anak, dari yang baru bisa berjalan hingga yang sudah beranjak remaja, berhamburan keluar rumah seperti air sungai yang meluap setelah hujan deras. Mereka membawa nampan, rantang, atau plastik berisi aneka jajanan, dari chiki, gorengan, es krim, hingga semangka. Ada yang sengaja membawa semangka, katanya biar beda.
Di sinilah Demak berbicara dengan bahasa yang berbeda. Bukan dengan gegap gempita meriam karbit atau gemerlap lampu hias, melainkan dengan bahasa ketulusan yang diwariskan secara turun-temurun.
Weh-Buweh. Dua suku kata yang bermakna sederhana: Weh itu memberi, Buweh itu menerima. Saling memberi, saling menerima. Ibarat jantung yang berdetak, sistol dan diastol tak bisa berjalan sendiri, begitu pula tradisi ini. Ia mengajarkan bahwa hidup adalah ritme antara memberi dan menerima, antara mengulurkan tangan dan membuka telapak tangan. Maka di setiap depan rumah, meja-meja kecil dihias bak altar persembahan. Seorang bocah perempuan, baru 8 tahun, matanya berbinar saat ditanya apa yang ia dapatkan. Kembang api! jawabnya riang sambil menunjukkan mainan yang baru ditukar dengan makanan ringan yang ia bawa dari rumah. Di matanya, ini adalah malam paling ajaib. Bukan karena Lailatul Qadar yang konjungsi kosmiknya tak terjangkau nalar bocah, tapi karena malam ini ia bisa menjelma menjadi raja kecil yang berkeliling memungut kebahagiaan. Dan lihatlah, ketika ia mengambil, ia juga memberi. Ia belajar bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, bahkan sebelum usianya mengerti hadis. Tapi yang membuat tradisi ini begitu dalam adalah absurditas ekonominya. Di dunia orang dewasa yang hiruk-pikuk oleh untung rugi, di Weh-Buweh, sebungkus snack murah bisa ditukar dengan es krim mahal. Mereka yang tak membawa apa pun tetap diperbolehkan mengambil dari lapak warga. Sebuah pemandangan yang mungkin akan membuat para ekonom pusing tujuh keliling. Tapi di sinilah letak magisnya: tidak ada yang menghitung. Ini adalah latihan menjadi dermawan. Tidak memandang besar kecilnya harga nilai jajanan atau barang tersebut.
Di salah satu sudut kampung, seorang warga membuka lapak tak hanya berisi jajanan, tapi juga uang pecahan lima ribuan baru. Ini sebenarnya hanya simbol saja, katanya, kalau manusia itu saling memberi. Dipaskan dengan malam selikuran yang penuh berkah. Dalam tempo singkat, puluhan bungkus jajanan ludes, dan lembaran uang baru pun berpindah ke tangan bocah-bocah yang sumringah. Ekonomi surga barangkali. Di mana memberi bukan berarti kehilangan, justru melipatgandakan kebahagiaan. Tradisi ini juga menjadi magnet yang menarik para perantau pulang kampung. Mereka yang setiap tahun hidup di kota-kota besar dengan segala hiruk-pikuk individualisme, tiba-tiba terkenang masa kecil. Ingin pulang, ingin merasakan lagi jadi bocah yang tak risau esok. Ingin bersedekah dalam tradisi turun temurun yang tak lekang. Mereka berharap, tradisi ini terus hidup dan tak pernah mati.
Menariknya, tak ada batasan dalam tradisi ini. Siapa pun boleh lewat. Siapa pun boleh mengambil. Bahkan jika ada non-muslim pun ikut meramaikan, tak jadi soal. Sedekah tidak hanya ke orang muslim saja. Di sinilah kebhinekaan yang tak dihafal, tapi dipraktikkan. Di sinilah toleransi yang tak sekadar wacana, tapi ada di meja-meja kecil dengan jajanan ringan. Weh-Buweh adalah momentum silaturahmi yang kembali tulus. Tak ada saling menjahati atau menyakiti. Berjabat tangan tanpa pamrih, tanpa memilih siapa yang disukai siapa yang tidak disukai. Maka di malam itu, sekat-sekat sosial yang biasa menganga di siang hari, antara yang kaya dan miskin, antara pejabat dan rakyat, melebur jadi satu. Semua sama: sebagai manusia yang punya hajat memberi.
Tradisi yang biasanya digelar antara Maghrib dan Isya ini memang singkat. Hanya sekitar 30 menit hingga satu jam. Warga yang kini berusia 70 tahun masih ingat jelas saat ia kecil dulu berlarian dengan suara Weh-Buweh dari pengeras suara musala. Waktu masih kecil keluar kampung, banyak teman-teman yang saling menukarkan jajanan. Maunya apa ditukarkan, makan dulu nanti ambil lagi. Kenangan yang terus hidup, bahkan hingga usianya kini. Dan ketika waktu Isya tiba, perlahan jalanan kembali lengang. Anak-anak pulang dengan nampan yang kini berisi jajanan baru, dengan senyum yang mengembang. Para orang tua mulai menata sajadah. Malam berlanjut ke itikaf, berbisik memohon pada Sang Maha Pemberi.
Weh-Buweh mengajarkan kita bahwa untuk merayakan spiritualitas, tak melulu perlu khusyuk dalam diam. Bahwa Lailatul Qadar bisa didekati dengan riang, dengan tawa, dengan berbagi jajanan di lorong kampung. Bahwa Demak, yang konon menjadi saksi bisu berdirinya Islam di tanah Jawa, masih menyimpan tradisi yang membuat Ramadan tak hanya tentang lapar dan dahaga, tapi juga tentang lapang hati dan basah jiwa. Tahun depan, jika ingin merasakan malam Likuran yang tak biasa, datanglah ke Demak. Bawalah nampan dan jajanan. Atau jika tak punya, cukup datang dengan tangan hampa dan hati penuh. Karena di Weh-Buweh, yang tak punya justru berhak mendapat, dan yang memberi justru merasa kaya. Ibarat bulan yang tak pernah kehilangan cahaya meski ia beri seluruh sinarnya pada bumi.
Sesungguhnya Weh-Buweh bukan sekadar tradisi warisan leluhur yang berpindah dari generasi ke generasi, melainkan ia adalah nadi yang membuat Demak tetap berdetak di tengah deru zaman, ia adalah lentera yang menyala di lorong-lorong sunyi, menerangi bahwa kebaikan tak pernah memerlukan bahasa, tak butuh rupa, tak perlu nama. Ia mengajarkan bahwa di malam-malam yang hening, ketika malaikat konon turun membawa berkah, manusia pun bisa menjadi malaikat bagi manusia lain, cukup dengan sebungkus jajanan yang berpindah dari telapak tangan ke telapak tangan, cukup dengan senyum yang tak pernah ditagih kembali, cukup dengan keikhlasan yang mengalir seperti air, yang tak pernah bertanya akan bermuara ke mana, karena di Weh-Buweh, memberi dan menerima adalah koin yang sama, dua sisi yang tak bisa dipisahkan, seperti cinta yang tak pernah bertanya mengapa ia harus mencinta. Itu adalah Weh-Buweh yang terus berdetak, yang memompa kebahagiaan dari satu jiwa ke jiwa lain, yang mengajarkan bahwa di kota para wali ini, surga tak selalu perlu dicari dengan meratap dalam tangis, kadang ia cukup dirayakan dengan senyum dan sebongkah jajanan yang berpindah dari telapak tangan mungil ke telapak tangan mungil lainnya, seperti ruh yang terus berdenyut dalam jasad tradisi yang tak pernah mati.
Weh-Buweh mengajarkan bahwa memberi dan menerima sejatinya adalah kiblat yang sama, hanya wajahnya yang berbeda. (STW/BA).
Sekolah Budaya RamadhanCopyright © 2019 - 2026 SMA NEGERI 1 DEMAK All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id