; ; ;
Oleh: Rahmawati (Jurnalistik Smansade, XI-4)
Nandya Aulia Al Thafira (Jurnalistik Smansade, X-9)
Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd
SmansadeUpdate- Donor darah adalah kegiatan yang dapat dilakukan siapa saja untuk rasa kemanusiaan yang masih ada. Biasanya, kegiatan ini hanya dikenal dari lorong puskesmas atau rumah sakit saja. Mungkin juga dari berbagai kegiatan volunteer yang menyasar ke lingkungan masyarakat. Edukasi di lingkungan sekolah pun sudah mulai dikenalkan sejak puluhan tahun lamanya melalui Palang Merah Remaja (PMR). Namun, hal yang sering kita pertanyakan adalah apakah memang perlu aksi donor darah hadir di kalangan siswa?
Edukasi DORAS (donor darah sukarela) saat ini telah menjadi kegiatan tahunan di berbagai sekolah di Indonesia. Ratusan sekolah terutama jenjang SMA telah menjalankan aksi ini melalui kerjasama dengan tenaga Kesehatan profesional. Tujuan utamanya tentu saja berusaha menanamkan rasa peduli sesama pada siswa melalui aksi mendonorkan darah. Bayangkan beberapa ratus ml darah nantinya dapat menyelamatkan nyawa yang membutuhkan. Namun tentunya, terdapat syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang pendonor. Mulai dari batas usia, kondisi kesehatan fisik, dan lain sebagainya.
Aksi ini menjadi pengalaman baru bagi siswa, terutama mereka yang baru memenuhi syarat usia sebagai pendonor dan dari kegiatan ini pula para siswa belajar bahwa kepedulian bisa dimulai dari setetes darah. Di samping itu, pendonor darah juga dikenal sebagai “sang penyelamat nyawa”.
Siswa yang ingin mendonorkan darah biasanya akan mengisi data dirinya dengan lengkap sebelum melakukan pengambilan darah. Tentu saja ini untuk mengantisipasi dan memastikan calon pendonor mematuhi persyaratan yang telah ditetapkan (seperti syarat usia minimal 17 tahun atau punya KTP, berat badan minimal 47 kg, tekanan darah stabil, dan lain sebagainya).
Terus terang, tidak sedikit siswa (biasanya yang baru pertama kali) memiliki tujuan ‘tersembunyi’ mengikuti aksi ini. Mungkin dapat dikatakan sudah rahasia umum (tahu sama tahu), jika mau mengikuti kegiatan DORAS karena FOMO (fear of missing out) atau ikut-ikutan. Bisa juga karena ingin merasakan sensasi ‘rasanya mendonorkan darah seperti apa sih?’ Jika diemikian, juga tidak masalah karena muara tujuan akhirnya tetaplah berbuah hal yang positif. Bahkan mungkin saja, dari FOMO inilah yang akan menyelamatkan ribuan nyawa. Sebagai generasi muda, hal ini yang menjadi dorongan dalam mengembangkan nilai kebaikan melalui berbagai ajakan.
Seperti fenomena awal ketika fase ‘penasaran dan baru pertama kali’, banyak siswa yang menjadi calon pendonor darah merasakan sensasi takut terhadap jarum suntik. Bahkan mungkin saja rasa takutnya seolah akan diterkam singa. Rasa takut yang menghantui itu pada akhirnya terbayar lunas setelah selesai menjadi pendonor. Jarum, selang transfuse, dan kantong-kantong darah menjadi perantara cerita dan kontribusi nyata.
Sebagai bentuk apresiasi feedback, siswa yang menjadi pendonor akan diberikan semacam small gift berbentuk bingkisan untuk mengembalikan suasana hati dan juga energy recovery. Dari yang pada awalnya berada di situasi tegang, akan kembali menjadi lebih hangat.
Sejatinya donor darah memberikan dampak ganda yang saling menguntungkan bagi pihak penerima maupun pasien. Donor darah jelas merupakan penyambung nyawa yang tak ternilai harganya. Sementara itu bagi sang pendonor sendiri, mendonorkan darah secara rutin dan berkala adalah sebuah investasi kesehatan jangka panjang. Karena donor darah dapat merangsang sel darah merah baru dan dapat menjaga kesehatan jantung. Karena dengan proses pendonoran ini membantu menurunkan kadar zat besi berlebih dan mengurangi kekentalan darah.
Aksi donor darah sukarela ini hadir sebagai pengingat akan pentingnya aksi nyata serta kepedulian sosial. Donor darah di sekolah bukan sekedar agenda tahunan organisasi PMR semata, melainkan sebuah simbol solidaritas. Ketika seseorang secara sukarela mengulurkan tangan dengan mendonorkan darahnya, dan memberikan sebagian dari dalam dirinya untuk menyambung hidup orang lain yang bahkan tidak dikenalnya. Rasa empati seperti ini tidak pernah memandang kepada siapa kita berempati.
Memahami makna yang cukup dalam, kegiatan doras ini menciptakan suka cita yang luar biasa. Meramu jutaan asa melalui beberapa mili darah yang tak ternilai harganya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa sedari dini nilai kemanusiaan memang sepatutnya untuk diajarkan. Melalui antusias dari para generasi muda, wujudkan semangat kesehatan antarsesama. (R/NAAT/BA).
Sekolah Pmr KesehatanCopyright © 2019 - 2026 SMA NEGERI 1 DEMAK All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id