; ; ;
Oleh: Kridho Santoso (Jurnalistik Smansade, XII-11)
Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd
SmansadeUpdate- Maulid Nabi Muhammad jatuh pada tanggal 12 atau 17 Rabiulawal bergantung dari mana Anda berpegang. Merupakan sebuah hari di mana terlahirlah seorang manusia yang dimuliakan, kelak menjadi tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Seiring perjalanan Islam di berbagai sudut dunia, terutama di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ajaran para tokoh penyebar agama IsIam yang memadukan hari kelahiran Nabi Muhammad dengan budaya lokal. Salah satu tradisi atau perayaan yang memperingati hari raya ini adalah “Sekaten” Di sekitar Yogyakarta dan Surakarta.
Pada zaman dulu, para penyebar agama Islam sangat lihai mencampurkan kepercayaan Arab dengan kebudayaan lokal. Salah satu hasil karyanya adalah muncul berbagai tradisi perayaan di hari kelahiran Nabi Muhammad. Ini merupakan strategi IsIamisasi berbalut euforia. Bayangkan saja ketika saat itu (era Hindu dan Buddha masih sangat dominan di Nusantara, terutama di Pulau Jawa), saat hari cerah dan mentari terik tropis menyinari jalanan tanah dan rumah-rumah kayu dan asap dupa yang mengepul bersamaan dengan lantunan puja-puji dari pemuka agama setempat. Lalu, datanglah seseorang dengan ide yang sangat jenius yang mempunyai strategi mentransformasi kepercayaan yang telah ada dengan keyakinan baru. Mereka membawa kesenangan dalam berbagai bentuk, misal makanan gratis sebagai ‘tiket masuk’ acara sekaligus pindah “golongan”. Jadilah tradisi hingga saat ini.
Terlepas dari sejarahnya perayaan ini menimbulkan pro dan kontra, khususnya pada mereka yang menyembah ke orisinilan dan mereka yang sudah di pengaruhi budaya lokal. Mereka yang saya sebut sebagai pemuja orisinil berdalil bahwasanya euforia sewaktu hari Maulid ini adalah fitur yang dikembangkan sendiri. Jika demikian, para penyebar agama di Nusantara haruslah membawa pasukan besar untuk mengubah nusantara sebagai pemeluk agama IsIam terbesar melalui kekerasan. Memang benarnya tidak diajarkan, tapi Islam tidak mengajarkan kekerasan, bukan? Kita lanjut pada mereka yang saya sebut sebagai yang terdoktrin. Mereka menyebutkan bahwa perayaan ini adalah inovasi yang baik sebab selain saling berbagi kebaikan (baca: makanan) terdapat juga pemaparan sejarah Islam dan kenabian kendati lebih menarik mengisi isi perut daripada kepala.
Meskipun berbeda pandangan dalam bentuk upacara dan seremonialnya, kedua belah pihak pro dan kontra tetap sepakat pada satu hal penting yaitu, kewajiban mencintai, menghormati, dan meneladani Nabi Muhammad SAW adalah suatu kebajikan dan kebaikan agar kita meneladani beliau. Tentu saja hal ini tidak hanya diimplementasikan hanya saat Rabiulawal saja, apa iya kita dianggap hidup hanya saat hari ulang tahun saja? Melewati perayaan ini ada ilmu yang harus kita timba bahwa hari-hari seperti ini tidak hanya digunakan sebagai seremonial saja. Namun, sebagai pengingat dan pembelajaran bagi pemeluk agama Islam dan seterusnya kebaikan ini dipikirkan, disampaikan, dan digunakan dalam hal kebaikan bersama. Sebab semua keyakinan akan selalu benar jika mengajarkan kebaikan. (KS/BA).
Sekolah Agama BudayaCopyright © 2019 - 2026 SMA NEGERI 1 DEMAK All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id