; ; ;
Oleh: Muhammad Abdul Faqih (Jurnalistik Smansade, X-8)
Rahmawati (Jurnlaistik Smansade, XI-4)
Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd
SmansadeUpdate - Agustus memang bulan istimewa untuk masyarakat Indonesia. Euforia dimana-mana. Bendera dikibarkan, umbul-umbul dimunculkan. Dari kota besr hingga perkampungan terpencil, nuansa kegembiraan membuncah. Berbagai bentuk perayaan tujuh belasan direalisasikan. Salah satunya adalah perlombaan yang menjadi fenomena dan tradisi.
Tertanam kuat dalam nadi kehidupan dan budaya masyarakat Indonesia bahwa kegiatan perlombaan tujuh belasan menjadi ajang diukurnya nasionalisme yang sesungguhnya tak terlihat keberadaannya. Atmosfer diselenggarakan perlombaan juga marak dan jamak terjadi di sekolah. Sudah puluhan tahun lamanya perayaan ini terselenggara di berbagai sekolah di Indonesia. Contoh mudahnya seperti: lomba tarik tambang, estafet, gobak sodor, dan lain sebagainya yang menjadi sesuatu yang unik nan khas.
Acara perlombaan seolah seperti mantra magis yang muncul setahun sekali serta menyihir rasa lelah menjadi sukacita yang meriah. Namun, benarkah adanya perayaan-perayaan dalam bentuk perlombaan merupakan sebuah urgensi? Atau mungkin saja hanya seremonial dari masa lalu yang sudah dianggap tradisi?
Jujur saja, mungkin ada sebagian yang beranggapan jika adanya perlombaan yang diadakan untuk memeriahkan agustusan lebih cenderung ke formalitas kegiatan dan tidak dapat menyerap semua pihak untuk berpartisipasi langsung. Pro dan kontra menjadi hal yang biasa. Contohnya tidak semua siswa bisa berkesempatan untuk berpartisipasi dalam perlombaan. Mungkin Sebagian dari mereka hanya bisa berkontribusi sebagai pemberi dukungan atau kata keren menghiburnya adalah supporter. Lalu apa mereka-mereka yang hanya sebagai pemberi dukungan dapat merasakan makna sesungguhnya secara utuh?
Mekipun demikian, tak dipungkiri jika momen Agustusan di sekolah tidak hanya sekedar hiburan di tengah padatnya kegiatan pembelajaran dalam kalender akademik. Diadakan perlombaan dapat menjadi ruang jeda tempat sekat-sekat sosial yang sebelumnya berjarak menjadi agak cair. Siswa yang biasanya canggung bertegur sapa, “dipaksa” keadaan untuk saling bekerjasama. Perasaan empati dan perjuangan bersama yang ada secara spontan menjadi bentuk nyata dari kebersamaan yang kerap membutuhkan effort ketika di dalam ruang kelas formal.
Menatap kembali lingkungan sekolah yang ramai dalam sehari, sejalan dengan diadakannya perayaan hari bersejarah di republik ini. Tidak semua siswa berhasil memaknai peristiwa yang terjadi di rumah keduanya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sekolah. Sehingga diperlukan mercusuar pengetahuan yang membawa pemahaman bahwa perlombaan tidak hanya untuk kesenangan semata. Melainkan menjadi salah satu wadah untuk menumbuhkan idealisasi bagi generasi yang hidup berdampingan dengan pesatnya era digitalisasi. Meskipun banyak yang tidak menyadarinya, tetapi bagaimapun juga generasi muda merupakan garda terdepan yang akan merangkai kedigdayaan di dalam kecerdasan.
Generasi muda, terutama gen milenial dan gen Z merupakan pion utama yang diharapkan dapat mengembangkan berbagai inovasi dan gagasan kreatif. Namun, perlu diingat pula jika nilai kemanusiaan dapat saja memudar jika perayaan hanya berfokus pada hasil akhir. Tak elok pula jika hanya dilakukan untuk melengkapi agenda tahunan.
Setiap perayaan memiliki dinamikanya tersendiri. Ada yang berperan sebagai peserta, panitia, maupun sekadar penikmat suasana. Namun, perbedaan peran itulah yang menjadi alasan kemeriahan perlombaan dan hiruk pikuk suasana. Hal tersebut tidak seharusnya menjadi batas untuk ikut dalam berkontribusi. Justru dari keberagaman itulah tercipta ruang untuk saling melengkapi, bertukar gagasan, dan membangun suasana yang lebih hidup. Tidak hanya melalui perlombaan semata, kontribusi juga dapat diwujudkan lewat berbagai bentuk aktifitas kreatif. Rasa takut untuk mencoba tidak seharusnya menjadi alasan untuk mematikan kesempatan yang mungkin membawa perubahan.
Pada akhirnya, merawat ingatan bangsa bukanlah tentang menghitung angka tahunan semata, melainkan tentang menjaga rasa kemanusiaan dan solidaritas agar tetap hidup. Di tengah laju arus waktu, harapan bangsa harus terus menyala bak lentera. Layaknya bertaruh di antara harap yang terus tumbuh. Tradisi lomba ini akan selalu memiliki urgensi selama ia terus menjadi wadah untuk saling memanusiakan, merayakan perbedaan, dan menyatukan langkah demi masa depan bersama. (MAF/R/BA).
Sekolah Kemerdekaan OpiniCopyright © 2019 - 2026 SMA NEGERI 1 DEMAK All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id