; ; ;

SMA Negeri 1 Demak

Jl. Sultan Fatah No. 85 Demak

Maju Bersama Hebat Semua

Menengok Warisan Kolonial di Little Netherland

Senin, 13 Maret 2023 ~ Oleh Baihaqi Aditya ~ Dilihat 655 Kali

Smansade Update- Sejarah bukan tentang peristiwa yang sudah menjadi tumpukan buku tebal, usang, dan berdebu. Sejarah adalah citarasa masa lampau yang mampu memunculkan kembali emosi, kenangan, warisan, pembelajaran, dan kehidupan pada setiap roda peradaban. Kegiatan history fieldtrip menjadi ‘jembatan’ untuk mendekatkan denyut nadi era lampau dengan kompleksitas zaman sekarang.

Pekan-pekan penilaian pada pertengahan semester untuk kelas X dan XI serta penilaian akhir semester genap bagi kelas XII telah selesai. Kegiatan rutinitas tiap tahun dalam kalender pendidikan tersebut tentu menguras banyak energi dan pikiran. Recovery (pemulihan diri) diperlukan dan healing (penyembuhan dalam melepas penat) direkomendasikan. Hasilnya history fieldtrip diagendakan. History Club Smansade mengguratkan cerita kebersamaan. Little Netherland menjadi obyek studi historis yang menyenangkan.

Sabtu pagi (11/03/2023), sebanyak 20 peserta history fieldtrip tengah bersiap untuk keberangkatan. Sekolah menjadi titik temu untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi. Sekitar pukul 07.30 WIB, rombongan berangkat menggunakan moda transportasi umum bus. Melaju ke arah barat Kota Wali. Sekitar satu jam jarak yang ditempuh untuk menuju Little Netherland. Jalanan Demak berganti aspal Semarang. Welkomme in Klein Netherlandsche!

Gedung ‘Seribu Pintu’ Tak Lekang Oleh Waktu

Bangunan putih dengan gaya Indis itu terlihat eksotis. Menghuni salah satu sudut di Kawasan Tugu Muda Semarang. Berdiri megah dengan bilasan sinar matahari yang siang itu cukup terik menaungi Kota Semarang. Disinilah simbol memori masa lampau era kolonial di Semarang lekat secara mendalam. Lawang Sewu sebutannya.

Lawang Sewu adalah gedung bersejarah yang saat ini dikelola dibawah naungan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Tahun 1904 menjadi penanda historis dibangunnya bangunan megah tersebut. Tiga tahun kemudian sejak pembangunannya, gedung mulai beroperasi dan secara penuh selesai di tahun 1919. Lawang Sewu awalnya digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Bangunan penuh dengan simbol kejayaan

 

Bangunannya dirancang oleh Prof. Jaap Frederick Klinkhamer dan Bert Johan Ouendag, arsitek dari Belanda yang ahli dengan pembuatan arsitektur bergaya Indis (Indonesia-Eropa). Apabila dilihat dari cakrawala udara, bangunan Lawang Sewu didesain menyerupai huruf L. Keunikan dari Lawang Sewu dikarenakan memiliki jumlah pintu dan jendela tinggi yang sangat banyak (originalnya berjumlah 429 buah) sehingga disebut bangunan Seribu Pintu. Banyaknya jendela tersebut digunakan sebagai sistem sirkulasi udara. Menyesuaikan iklim tropis yang cenderung panas.

Lawang Sewu memiliki tiga lantai bangunan. Jika memasuki bangunan utama, akan menemukan tangga besar menuju ke lantai dua. Diantara tangga tersebut terdapat semacam kaca mozaik berukuran besar yang menunjukkan gambar dua wanita muda Belanda yang terbuat dari gelas. Kaca tersebut bercerita tentang kemakmuran kota, keindahan Jawa, kekuasaan Belanda atas Semarang, kota maritim serta kejayaan bisnis kereta api di Semarang.

Halaman tengah Lawang Sewu dimaksimalkan sebagai spot foto para pengunjungnya. Sementara gedung bagian belakang berjejer para penjaja oleh-oleh khas Lawang Sewu. Perjalanan lorong kolonial di gedung ‘Berpintu Seribu’ diakhiri melalui pintu keluar.

Lawang Sewu, noktah putih diatas cakrawala Semarang dimana kejayaan dunia kereta api, ruang tahanan, titik perjuangan, hingga urban legend yang terkenal melebur menjadi satu dan tidak lekang oleh waktu.

Museum Mandala Bhakti, Relik Masa Lampau Pendudukan Jepang di Semarang

Titik kedua untuk berburu ilmu. Museum Mandala Bakti namanya. Lokasinya tidak jauh dari Lawang Sewu. Cukup menyeberang dan jalan kaki sekitar 500 meter. Disinilah penggalian ilmu mengenai perjuangan masa lampau dipatrikan. Pendudukan tentara Kekaisaran Jepang di Kota Semarang.

Lukisan perjuangan, baju dinas tentara kekaisaran Dai Nippon, surat-surat berbahasa Jepang, senjata senapan api era penjajahan, hingga replika meriam menjadi koleksi utamanya.

Simbol Perjuangan terpatrikan dalam lukisan

Perjalanan menyusuri tiap langkah di Museum Mandala Bhakti Semarang yang bermakna disampaikan langsung oleh Siti Lailatul Maghfiroh.

“kunjungan di museum sangat menarik, menyenangkan dan tidak membosankan karena dengan melihat replika-replika maupun lukisan secara langsung dapat menyerap ilmu dan menggambarkan bagaimana keadaan Semarang pada saat itu,” ujar koordinator History Club Smansade 2023 tersebut.

Kota Lama, Little Amsterdam dengan Pesona Indis-Eropa di Tanah Lunpia

Inti dari perjalanan ke Kota Semarang adalah mengunjungi Little Amasterdam alias Kawasan Kota Lama Semarang. Dinamai demikian karena pada era kolonial, Semarang memang menjadi anak emas warga Belanda yang menetap di kawasan Pantai Utara Jawa. Dekat dengan Pelabuhannya yang sibuk, tata kotanya yang terstruktur dan tidak mudah terkena bencana banjir menjadikan Kota Lama Semarang menyandang predikat tersebut.

Pada masa lampau, di sela-sela bangunan bergaya Belanda terdapat banyak kanal-kanal kecil yang berhubungan satu sama lain. Suasananya diibaratkan seperti replika Ibukota Amtserdam yang menjadi kebanggan Bangsa Belanda.

The Little Amsterdam

Saat ini, Kota Lama Semarang mencakup kompleks seluas 31 hektar. Sebanyak 105 bangunan bergaya Belanda tersebar dalam beberapa zonasi. Beberapa bangunan ikoniknya terletak di zona budaya. Antara lain: De Spiegel (1895) yang kini menjadi kafe resto, GPIB Immanuel Semarang (1753) alias Gereja Blenduk, Gedung Marba (abad 19), hingga Gedung Nederlandsch Indiesche Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij (1916) alias Gedung Jiwasraya yang punya elevator pertama di Indonesia.

Terdapat juga pasar loak yang menempati gedung Galeri Industri Kreatif Semarang (belakang Gereja Blenduk). Penawaran yang dijual di sini termasuk barang langka seperti replika koin era VOC, surat kabar tahun 1800-an, foto-foto kuno, hingga memorabilia masa kanak-kanak. Jika berminat, terdapat pula demo pembuatan wayang suket (wayang khas Jawa Tengah dari mendong alias ilalang rawa).

Kota Lama Semarang atau The Little Amsterdam memiliki banyak memori kuno, klasik, dan elegan.

Belajar sejarah tidak harus melalui pustaka yang tebal dan berat. Melalui kunjungan secara langsung dapat merasakan aura masa lampau. Little Netherland atau Little Amsterdam, dimana citarasa rempah, kopi, teh, dan gula menjadi saksi dimulainya peradaban Semarang yang gemilang. (BA/Hum).

Sekolah Sejarah Perjalanan
  1. TULISAN TERKAIT