; ; ;
Oleh : Aulia Selviani (Jurnalistik Smansade, XI-8)
Penyunting: Baihaqi Aditya, S.Pd
SmansadeUpdate-Pagi itu, Kamis (07/05/2026) suasana di SMA Negeri 1 Demak terasa berbeda. Sejak pukul 07.00, langkah-langkah kaki para siswa kelas XII Angkatan 63 Tahun 2026 mulai memenuhi halaman sekolah. Mereka datang dengan pakaian yang sama bawahan hitam, kemeja putih, dan dasi hitam namun membawa perasaan yang beragam. Ada yang tersenyum lebar, ada yang diam menatap sekeliling, mencoba menyimpan setiap sudut kenangan sebelum benar-benar ditinggalkan.
Di balik panggung, panitia dari tim kesiswaan sibuk mempersiapkan acara. Kursi tersusun rapi, mikrofon diuji, dan dekorasi sederhana berdiri sebagai saksi bisu dari perjalanan tiga tahun yang akan segera ditutup. Ketika MC membuka acara, suasana perlahan berubah menjadi khidmat. Semua menyadari, ini bukan sekadar acara biasa ini adalah perpisahan.
Lagu Indonesia Raya pun berkumandang. Seluruh hadirin berdiri tegak, menyanyikannya dengan penuh rasa hormat. Dalam lantunan lagu itu, seakan terselip kenangan tentang hari pertama masuk sekolah, tentang tawa di kelas, dan tentang mimpi-mimpi yang mulai tumbuh. Doa yang dipanjatkan setelahnya menjadi jeda yang tenang, tempat setiap orang menyimpan harapan untuk masa depan.
Sambutan dari Kepala Sekolah, Sholikin, S.Pd., M.Pd., mengalir hangat. Beliau berbicara tentang perjuangan, tentang proses, dan tentang pentingnya menjaga nama baik almamater. Namun di balik kata-kata itu, tersirat rasa bangga yang tak bisa disembunyikan. Di hadapannya berdiri generasi yang siap melangkah lebih jauh.
Perwakilan siswa kelas Xll, Ahmad Haikal Hamami, maju dengan langkah yang sedikit berat. Suaranya bergetar saat mengucapkan terima kasih bukan karena lemah, tetapi karena terlalu banyak kenangan yang ingin disampaikan. Momen berlanjut dengan pengucapan Janji Alumni yang dipimpin oleh Dea Inaya Gita. Kalimat demi kalimat terucap tegas, menjadi janji yang akan mereka bawa ke kehidupan yang lebih luas.
Ketika Rizky Haidar Yudha Maheswara menyampaikan kesan dan pesan sebagai perwakilan adek kelas, suasana berubah semakin haru. Ia berbicara tentang kakak-kakak yang telah menjadi contoh, teman, sekaligus bagian dari cerita di sekolah ini. Beberapa siswa mulai menunduk, menyembunyikan air mata yang perlahan jatuh.
Namun, di balik haru itu, tersimpan cerita perjuangan yang tidak semua orang lihat. Bagi sebagian siswa, hari pelepasan ini bukan hanya tentang perpisahan, tetapi juga tentang penantian hasil perjuangan panjang menuju perguruan tinggi negeri. Malam-malam yang diisi dengan belajar, latihan soal tanpa henti, hingga rasa lelah yang sering datang, menjadi bagian dari perjalanan mereka. Ada yang sudah berhasil diterima di PTN impian, ada pula yang masih menunggu, bahkan bersiap mencoba kembali. Di antara tawa hari itu, terselip doa-doa yang diam-diam mereka panjatkan.
Seolah memahami perasaan itu, sesi hiburan pun menjadi ruang untuk melepas beban. Lagu Ingatlah Hari Ini dan Manusia Kuat dinyanyikan bersama. Lirik-liriknya terasa dekat, seperti menggambarkan perjalanan mereka tentang bertahan, tentang kuat, dan tentang tidak menyerah. Tawa kembali terdengar, meski di beberapa sudut masih ada mata yang berkaca-kaca.
Puncak acara tiba. Satu per satu siswa maju ke depan untuk menerima SKL. Kepala sekolah secara simbolis memberikan gelar kelulusan, sebuah tanda bahwa perjalanan mereka di sekolah ini telah selesai. Tepuk tangan menggema setiap nama dipanggil. Bukan hanya bentuk penghargaan, tetapi juga perayaan atas perjuangan panjang yang telah mereka lalui.
Sesi foto bersama menjadi penutup yang manis. Setiap kelas bergantian mengabadikan momen bersama Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, dan wali kelas. Di balik senyum yang terlihat di kamera, tersimpan perasaan yang sulit dijelaskan bahagia karena berhasil melewati masa sekolah, namun juga cemas menghadapi masa depan.
Menjelang pukul 10.00, acara resmi ditutup. Namun kebersamaan belum ingin berakhir. Para siswa saling memberikan hadiah kecil, menempelkan stiker kenangan di baju teman-temannya, dan berfoto bersama dalam berbagai pose. Tawa dan air mata bercampur menjadi satu, menciptakan momen yang akan selalu diingat.
Hari itu, mereka belajar satu hal yang mungkin tak pernah diajarkan di kelas: tentang melepaskan dan terus melangkah. Dengan bawahan hitam, kemeja putih, dan dasi hitam yang masih melekat, mereka meninggalkan sekolah dengan membawa kenangan, harapan, dan perjuangan yang belum sepenuhnya selesai. Karena di luar sana, mimpi masih menunggu untuk diperjuangkan.(AS/BA).
Sekolah Wisuda KelulusanCopyright © 2019 - 2026 SMA NEGERI 1 DEMAK All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id