; ; ;

SMA NEGERI 1 DEMAK

Jl. Sultan Fatah No. 85 Demak

Cerdas - Santun - Berprestasi

“Benarkah Dongeng Nenek Hanya Pengantar Tidur?” Bedah Sisi Kritis Tokoh Perempuan Nusantara

Jum'at, 25 September 2026 ~ Oleh Baihaqi Aditya ~ Dilihat 2 Kali

Oleh:    Jihan Salsabillah (Jurnalistik Smansade, XI-10)

Althifa Fatkha Adiba (Jurnalistik Smansade, X-4)

Penyunting: Baihaqi Aditya, S.P

SmansadeUpdate-Suasana Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinperpusar) Kabupaten Demak tampak tenang saat puluhan peserta memadati agenda “Bedah Buku: Bukan Cerita Nenek Sebelum Tidur” pada Kamis (24/9/2026). Gelaran ini menghadirkan Ayu Prawitasari-penulis,jurnalis, sekaligus pengajar- yang mengajak audiens menyelami kembali narasi cerita rakyat Nusantara dan korelasinya dengan realitas sosial perempuan saat ini.

Buku ini berangkat dari memori personal si penulis sendiri, Ayu Prawitasari yang dibesarkan oleh neneknya. Lewat dukungan Dana Indonesiana, Ayu melakoni riset yang mendalam melintasi Banyuwangi, Malang, Kediri, Klaten, hingga Bantul untuk menelusuri kembali asal-usul legenda yang pernah ia dengar semasa kecil.

Dalam penelusurannya, Ayu menemukan sisi lain dari sejumlah tokoh perempuan dalam cerita rakyat. Sri Tanjung, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai perempuan yang menjadi korban fitnah. Ayu menemukan versi cerita yang menggambarkan Sri Tanjung hidup kembali dengan bantuan Dewi Durga dan memiliki bentuk perlawanan terhadap pihak yang telah menyakitinya.

Ayu juga membahas Ken Dedes yang selama ini kerap digambarkan sebagai perempuan pasif. Menurutnya, Ken Dedes dapat dilihat sebagai sosok yang cerdas dan memiliki pengaruh politik. Tokoh lain seperti Calon Arang, Kleting Kuning, Roro Jonggrang, dan Nyi Roro Kidul juga dibahas melalui sudut pandang yang berbeda dari cerita yang selama ini dikenal masyarakat.

Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan feminisme yang berakar pada budaya sendiri. Ayu menyoroti sejumlah ungkapan seperti “konco wingking”, “macak, masak, manak”, dan “wedok ora ilok” yang menurutnya dapat membentuk cara pandang terhadap perempuan sejak kecil. Ia menyebutnya sebagai “algoritma nenek”, yaitu pola nilai yang diwariskan dan dapat memengaruhi cara seseorang memahami dirinya.

Menurut Ayu, cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat membentuk pola pikir dan karakter masyarakat. Karena itu, cerita yang diwariskan perlu dilihat secara kritis. Ia memberikan contoh kisah Sri Tanjung dan Sidapaksa melalui pengalaman bertemu seorang anak di Banyuwangi yang mempertanyakan keputusan tokoh dalam cerita tersebut. Anak itu juga menghubungkan persoalan fitnah dalam cerita dengan kondisi saat ini, ketika informasi dapat tersebar melalui WhatsApp, Instagram, dan media sosial lainnya.

Selain membahas perempuan, Ayu menekankan pentingnya relasi yang setara dalam keluarga. Menurutnya, perempuan dan laki-laki tidak harus saling bersaing, tetapi dapat bekerja sama dengan tetap memiliki kemandirian masing-masing.

“Dalam kekeluargaan, kita seharusnya saling membutuhkan dan saling bekerja sama, tetapi tidak boleh ada rasanya saling ketergantungan. Kita boleh saling memberikan harapan, tetapi jangan terlalu berharap bahwa harapan itu selalu datang kepada kita,” ujar Ayu.

Ayu berharap anak perempuan maupun laki-laki dapat menjadi subjek dalam kehidupannya sendiri, memiliki jalan hidup dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasangan. Nilai yang baik dari cerita masa lalu dapat diteruskan, sedangkan nilai yang merugikan dapat ditinggalkan.

Melalui Bukan Cerita Nenek Sebelum Tidur, Ayu mengajak peserta untuk mengenal diri melalui cerita nenek moyang sekaligus mempertanyakan kembali nilai yang telah diwariskan. Ia menutup pemaparannya dengan pesan, “Hidup yang baik adalah hidup dengan membawa pertanyaan yang baik.” (JS/AFA/BA).

Sekolah Literasi Perpustakaan

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT