; ; ;

SMA NEGERI 1 DEMAK

Jl. Sultan Fatah No. 85 Demak

Cerdas - Santun - Berprestasi

Di Bawah Nyala Obor dan Guyuran Pesta Warna: Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) Smansade 2026

Senin, 19 Oktober 2026 ~ Oleh Baihaqi Aditya ~ Dilihat 1 Kali

Oleh:

Kridho Santoso (Jurnalistik Smansade, XII-11)

Penyunting:

Baihaqi Aditya, S.Pd

SmansadeUpdate- Macam hari biasa tanpa kepekatan tutupan awan, langit memancarkan terik tak terkira panasnya. Kala mentari mengoyak kulit dan meremas kering keringat, di situlah  kami berdiri membentuk barisan rapi. Barisan laki-laki dan perempuan terpisah, sebab begitulah metode aturannya. Barisan kalimat pertama MC diucapkan, segera memecah keluh ramai sebab panas. Dan suara gempita berpadu mengucapkan kalimat “siap gerak!” Maka menandai upacara pembukaan Perjusa (Perkemahan Jumat-Sabtu).

Serangkaian prosesi upacara pembukaan terlaksana dengan khidmat. Peresmian acara Perjusa oleh Kamabigus, pengibaran bendera Perjusa, penerbangan balon, dan pemukulan jidur menjadi urutan upacara pembukaan kegiatan ini. Tidak lupa juga dengan penancapan pusaka adat Ambalan yang berupa Trisula menandai dimulainya acara. Setelah prosesi upacara pembukaan rampung, peserta yang merupakan peserta didik kelas satu SMA menuju ke kelas yang sudah disediakan yang digunakan sebagai persinggahan selama acara berlangsung. Kurang lebihnya terdapat 400 peserta dan adanya pengelompokan para peserta menjadi lima sangga yang terdiri dari sangga Perintis, Pencoba, Pendobrak, Penegas, dan Pelaksana.

Rangkaian kegiatan hari pertama Perjusa adalah adanya lomba pembuatan pionering berbentuk kaki tiga. Para peserta berbondong-bondong bekerja sama selama pembuatan pionering ini. Beberapa peserta dapat membuat pionering bentuk kaki tiga dengan sempurna, ada pula pioneringnya yang agak miring dan bahkan kehilangan salah satu dari kaki pioneringnya. Mengesampingkan hal tersebut, semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Kegiatan hari itu di akhir dengan kegiatan outbound dan dilanjutkan dengan makan malam bersama.

Pada kala baskara jatuh dan bersulih oleh pangeran malam, menjadi momen puncak kegiatan Perjusa berlangsung. Kegiatan pada malam hari meliputi acara api unggun, pertunjukkan pentas seni, dan upacara pengukuhan yang menjadi dasar diadakannya kegiatan Perjusa. Pertama ialah acara api unggun. Suasana malam lembab, dengan angin sedikit menyapu daratan dan para permadani langit menampakkan sosoknya. Ada yang tampak melingkar, sebuah barisan, di tengahnya terdapat seonggok kayu yang dikelilingi oleh garis terbuat dari kapuk yang membentuk bintang bersudut delapan, tampak samar oleh gelapnya malam. Begitu hening, bahkan jangkrik dan hewan malam lainnya tidak bergeming, seolah-olah menantikan hal yang begitu luar biasa. Kemudian, ketika nafas tertegun, mata melihat dalam gelap, dan suara detak berirama bersama, terdengar suara yang lain dari semua itu. Suara salam yang diucapkan oleh sang pembawa acara. Dan pada saat itulah acara pokok api unggun dimulai.

Suasananya begitu khidmat, dingin malam menggantikan panas siang. Semuanya saling hormat yang dipimpin oleh Pemimpin Upacara, menunjukan sikap santun, menghormati, dan saling menghormati bagi sesama Pramuka. Sesepuh Upacara bergabung dalam lingkaran persaudaraan. Kemudian terdengar aba-aba dari seberang kanan dan kiri lingkaran. Dilanjutkan oleh hentakkan langkah kaki yang senada, total 13 orang dan masing-masing memegang obor yang belum dinyalakan. 10 orang merupakan perwakilan darma Pramuka, maju ke tengah lingkaran melingkari seonggok kayu dan 3 orang yang merupakan petugas satya berjalan menuju Sesepuh Upacara. Ketika suara langkah itu berhenti bersamaan, muncul cahaya kecil.

Cahaya kecil yang nantinya berubah menjadi besar, api satya telah dinyalakan oleh Sesepuh Upacara sembari bersorak “Allahu Akbar.” Tiga kali berturut-turut, suasana yang meriah kembali hening. Langkah perlahan petugas satya membawa api satya menuju darma Pramuka. Sesudahnya sampai, api satya disatukan dan mengucap janji salah satu tri satya yaitu menepati dasa dharma. Kemudian petugas darma pertama mengambil api satya, kembali ke tempatnya lalu berkumandang isi darma pertama. Lalu di bagikan api itu keseluruhan petugas darma, hingga pada akhirnya sudah darma kesepuluh. Diangkatnya obor membara itu ke angkasa sembari berteriak lantang tentang motto Gerakan Pramuka. Setelahnya diturunkan ke tanah. Ya, ke tanah, bukan ke seonggok kayu api unggun yang telah disiapkan, melainkan meletakkan obor-obor itu ketanah. Lalu, api mulai menggambar di lantai dipandu dengan garis terbuat dari kapuk,t terbentuklah membara api berbentuk bintang bersudut delapan. Dan, ketika api itu merambat hingga mencapai seonggok kayu, terbakarlah api unggun kami, dilanjutkan dengan nyanyian api unggun sekaligus memecah hening penantian ini. Upacara pokok telah terlaksana, Sesepuh Upacara menyampaikan  makna api unggun khususnya bagi Pramuka, tidak lain untuk meningkatkan solidaritas dan keharmonisan bagi para Pramuka. Serta menjadi pengingat akan satya dan darma.

Api unggun telah selesai, selanjutnya bersukaria karena pentas seni telah tiba. Peserta laki-laki dan perempuan telah menyiapkan pentas seni yang akan dipertunjukkannya jauh-jauh hari atau mungkin 10 menit ketika pentas seni akan dimulai. Intinya, semua bergembira semua bisa tertawa dan semua bisa terhibur. Panggung terbuka, lampu sorot menyinari bak pagi hari dan para juri dan peserta telah duduk menanti. Dibuka dengan pentas seni dari peserta laki-laki, tarian yang disebut khas “bapak-bapak” dengan lagu dangdut  yang membuat pinggul bergoyang. Tidak lupa mengenakan sarung untuk lebih terlihat “kebapak-bapakan”. Tidak lupa pula peserta perempuan yang tentu lebih berniat dalam menunjukkan pentas seni mereka. Dibuktikan dengan tari payung dengan kebaya yang digunakan, lalu tarian lainnya yang mengenakan pakaian layaknya penari tradisional dan penari kece yang terkesan lebih modern. Gelak tawa dan tepuk tangan mengiringi setiap penampilan hingga malam semakin larut. Setiap tarian membawa warna dan keunikan tersendiri, menjadi bukti bahwa kreativitas dapat tumbuh dalam kebersamaan juga dalam kesempitan 10 menit. Pada akhirnya, pentas seni bukan sekadar ajang unjuk bakat atau mencari kemenangan, melainkan ruang untuk belajar menghargai usaha, menerima perbedaan, dan menciptakan kenangan yang kelak akan menjadi bagian berharga dari perjalanan mereka sebagai seorang Pramuka.

Kemudian sampailah kegiatan ini di malam yang sakral, yaitu upacara pengukuhan menjadi anggota ambalan. Peserta ditanyai oleh Sesepuh Adat akan kesiapan menjadi anggota Ambalan yang bertanggung jawab, menetapi kode etik dan berani dihukum bilamana terbukti melakukan tindakan diluar kode etik. Setelah dirasa mantap dan berhak memasang logo Ambalan pada pakaian Pramuka mereka, maka upacara pengukuhan dinyatakan berakhir.

Kini telah berganti, pangeran malam tidak sanggup menguasai selamanya, kini datang sang mentari muncul di ujung cakrawala memberi hari baru untuk dunia. Hari kedua dan terakhir kagiatan Perjusa. Untuk meregangkan otot dan sebagai pelicin sendi maka ayo senam pagi. Kegiatan hari kedua diawali dengan giat senam pagi yang dipandu oleh panitia. Beberapa lihai bergerak sesuai irama, beberapa yang penting gerak, dan beberapa lagi masih bermimpi sembari berdiri. Setelah senam pagi selesai, dilanjutkan dengan pengembaraan. Para peserta bersiap untuk giat pengembaraan dengan mempersiapkan air minum, snack, dan tentunya materi di otak. Sebab, tidak sekedar berjalan berkeliling saja, pengembaraan ini terdapat beberapa pos yang menguji pengetahuan dan keterampilan para peserta.

Setelah giat pengembaraan berakhir, berlanjut euphoria bermain air dikala terik matahari dengan acara colorfun. Para peserta dikumpulkan di lapangan dan berbaris berbentuk lingkaran. Masing-masing peserta diberi bubuk cat yang akan digunakan saat acara ini berlangsung. Tidak lupa mendatangkan Damkar untuk meriahkan giat colorfun ini. Saat bubuk cat diterbangkan bersama-sama, musik berirama dan air diluluh-lantakkan membuat hujan buatan. Para peserta bersorak-sorai, bergandengan dan bergerak sesuai irama. Tawa dan sorak-sorai memenuhi lapangan, memadu dengan warna-warni bubuk cat dan siraman air yang menyegarkan. Di bawah terik matahari, rasa lelah setelah pengembaraan bak luruh, tergantikan oleh  kesenangan yang dirasakan bersama. Intinya, colorfun bukan sekadar ajang bermain air dan bersenang-senang, melainkan momen untuk mempererat persaudaraan, menghapus sekat antarpeserta, dan menyadari bahwa kebahagiaan sederhana akan terasa lebih bermakna ketika dibagikan bersama.

Akhir dari Kegiatan Perjusa ditutup dengan upacara penutupan. Berjalan sama halnya dengan upacara pembukaan. Perbedaannya terasa pada kaki yang sudah pegal tak sabar ingin pulang. Diakhiri dengan penutupan oleh Pembina upacara dan pencabutan pusaka adat Ambalan Trisula, maka sudah rampung kegiatan Perjusa kali ini. Tidak lupa pula, sebelum sayonara dikumandangkan pembagian hadiah beserta piala  kepada para peserta yang aktif selama kegiatan Perjusa berlangsung. Penghargaan ini dikelompokkan atas sangga tergiat, sangga dengan pentas seni terbaik, sangga dengan pionering terbaik, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, Perjusa bukan sekadar urutan kegiatan yang bermula dari upacara pembukaan hingga berakhirnya seluruh prosesi. Di atas itu semua, terkenang berbagai pengalaman, tawa, lelah, dan kebersamaan yang menjadi bagian dari pengalaman setiap peserta. Dari pionering, api unggun, pentas seni, hingga pengembaraan dan colorfun, semuanya mengajarkan arti kerja sama, kedisiplinan, tanggung jawab, serta persaudaraan. Waktu mungkin akan membawa mereka kembali pada rutinitas semula, tetapi kenangan yang tercipta akan selamanya ada, menjadi pengingat bahwa Pramuka bukan hanya tentang barisan, berpanas-panas, dan seragam, namun juga, tentang nilai-nilai kehidupan yang tumbuh melalui setiap langkah dan kebersamaan. Salam Pramuka! (KS/BA).

Sekolah Pramuka Ekstrakurikuler

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT